Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Malam-malam Panjang Menjelang Proklamasi 17 Agustus 1945

image-gnews
Presiden pertama RI, Sukarno (kiri) didampingi Wakil Presiden Mohammad Hatta, memberikan hormat saat tiba di Jalan Asia Afrika yang menjadi Historical Walk dalam penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung, 1955. Dok. Museum KAA
Presiden pertama RI, Sukarno (kiri) didampingi Wakil Presiden Mohammad Hatta, memberikan hormat saat tiba di Jalan Asia Afrika yang menjadi Historical Walk dalam penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung, 1955. Dok. Museum KAA
Iklan

TEMPO.CO, Jakarta - Pergumulan penentuan Proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 sudah dimulai sekitar seminggu sebelum pembacaan naskah proklamasi. Perjuangan puluhan tahun itu dipenuhi persaingan antara kelompok pemuda yang ingin segera mengaklamasikan kemerdekaan dan ikon perjuangan seperti Sukarno Hatta. Tempo mencoba mengangkat momen bersejarah detik-detik proklamasi tersebut.

12 Agustus 1945

Sukarno, Hatta dan Dr. Radjiman bertemu pimpinan Jepang di kota Saigon. Pada pertemuan itu, Terauchi, seorang pejabat Jepang mengutarakan pemberian hadiah dari pemerintah Jepang.

Ia berpidato singkat. "Tuan-tuan, saya mengabarkan bahwa pemerintah Jepang telah memutuskan untuk memberikan kemerdekaan kepada Indonesia." Bung Karno pun menyambut hangat pemberian itu. "Kami berjanji akan berusaha segiat-giatnya untuk melaksanakan kewajiban kami dengan segenap jiwa dan raga yang berkobar-kobar."

Hatta sendiri seusai pertemuan itu menyampaikan kepada Bung Karno perlunya mempercepat proses kemerdekaan. "Kita harus mempercepat persiapan kita untuk melaksanakan kemerdekaan kita. Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia harus segera bersidang dan mengesahkan UUD Republik Indonesia." 


15 Agustus 1945


Sukarno dan Hatta menuju kantor Yamamoto di Gunseikanbu, Kantor Pusat Administrasi Militer Jepang, di dekat Gambir (sekarang kantor Pertamina) untuk menanyakan betul tidaknya Jepang sudah menyerah kepada sekutu.

Sayang kantor Yamamoto kosong, Ahmad Subardjo yang waktu itu menjabat Kepala Biro Riset Angkatan Laut Jepang mengusulkan untuk mencari informasi dari Laksamana Muda Tadashi Maeda, Kepala Kantor Kaigun Bukanhu (Penghubung antara Angkatan Laut dan Angkatan Darat Jepang) di sebelah Utara lapangan Ikada di gedung "Volkscreditwezen" (sekarang gedung Markas Besar Angkatan Darat jalan Medan Merdeka, Jakarta).

Kemudian ditanyakan perihal sudah menyerahnya Jepang. "Laksamana Maeda, benarkah berita yang sekarang tersiar di masyarakat bahwa Jepang sudah minta damai kepada Sekutu?"

"Benar, berita itu memang disiarkan oleh Sekutu, tetapi kami di sini belum lagi memperoleh berita dari Tokyo, sebab itu berita itu belum kami pandang benar. Hanya instruksi dari Tokyo yang menjadi pegangan kami," ujar Maeda

Pukul 9.30, 15 Agustus 1945

Sekelompok pemuda yaitu Wikana, Soebadio, Chaerul Saleh, Sukarni, Adam Malik, Darwis, dan Soeroto Kunto mendatangi kediaman Bung Karno di Pegangsaan. Wikana yang bekerja di kantor Kaigun Bukanhu pimpinan Maeda mengutarakan niatnya agar Bung Karno dan Bung Hatta supaya segera menyatakan kemerdekaan, lepas dari janji Jepang dan PPKI. Pada saat yang sama pemuda lainnya juga mendatangi kediaman Bung Hatta. Waktu itu Hatta sedang menyiapkan pidato kemerdekaan yang akan dibagikan kepada anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan. Hatta diajak agar mau mendatangi kediaman Bung Karno menyiapkan rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia.

Wikana kemudian maju, matanya menyorot tajam, ia memandang Sukarno dan berkata setengah menggeram, "Apabila Bung Karno tidak mau mengucapkan pengumuman kemerdekaan malam ini juga, besok pagi akan terjadi pembunuhan dan penumpahan darah."

Tidak mau kalah Bung Karno yang waktu itu sedang menderita malaria membalas dengan wajah merah padam, sambil menyorongkan lehernya. "Ini leherku, seretlah aku ke pojok sana, dan sudahilah nyawaku malam ini juga, jangan menunggu sampai besok."

Pukul 3 pagi, 16 Agustus 1945

Para pemuda mendatangi kediaman Bung Karno. Chaerul Saleh dan beberapa pemuda masuk dengan diam-diam, berpakaian seragam PETA. "Berpakaianlah Bung. Sudah tiba saatnya," kata seorang pemuda. Pemuda lain berkata, "Oleh karena itu kami akan melarikan Bung keluar kota. Sudah kami putuskan untuk membawa Bung ke tempat yang aman."

Pukul 4 pagi, 16 Agustus 1945

Di pekarangan rumah Bung Karno sudah ada dua mobil. Mobil yang satu sudah diisi Hatta, Sukarno, Fatmawati dan Guntur masuk ke mobil Fiat. Selama di Rangasdengklok rombongan Bung Karno dan Hatta disembunyikan di rumah Djiauw Kie Siong.

Pukul 18.00, 16 Agustus 1945

Sukarni, seorang aktivis Menteng 31 mendatangi persembunyian kedua tokoh tersebut. Ia membawa pesan bahwa Ahmad Subardjo telah datang dan ditugasi oleh Gunseikan untuk membawa rombongan kembali ke Jakarta. Alasanya Panitia Persiapan Kemerdekaan tidak bisa bekerja tanpa kehadiran dua tokoh yang diculik tersebut.

Rombongan kembali ke Jakarta menggunakan tiga mobil. Mobil pertama berisi Sukarni (aktivis Menteng 31), Ahmad Subardjo menemani Bung Karno, Fatmawati, Guntur dan Bung Hatta. Mobil kedua merek Skoda diisi Sudiro (Pemimpin Harian Barisan Pelopor) dan Kunto. Mobil ketiga diisi oleh tentara PETA.

Sekitar Pukul 20.00, 16 Agustus 1945

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Sampailah di kediaman Bung Karno. Hanya Fatmawati dan Guntur yang turun. Bung Karno melanjutkan menemani Bung Hatta pulang.

Pukul 22.00, 16 Agustus 1945

Bung Karno bersama Subadjo menjemput Bung Hatta menuju rumah Laksamana Maeda. Dalam pertemuan itu Maeda meminta Bung Karno mencegah pemberontakan. "Tuan-tuan, kita harus mencegah pemberontakan para pemuda dan tentara PETA malam ini karena mereka pasti akan berhadapan dengan tentara Jepang."

Dinihari 17 Agustus 1945

Sukarno dan Hatta kembali ke rumah Maeda. Di dalam rumah Maeda sudah banyak orang hadir, Tampak Latuharhary SH, Otto Iskandardinata, Teuku Mohammad Hasan juga tokoh pemuda seperti Chairul Saleh, Sukarni, BM Diah dan Sayuti Melik.

Kemudian Sukarno dan Hatta merancang naskah proklamasi. Awalnya Bung Karno meminta Hatta yang merancang, namun ditolak Hatta. "Apabila aku mesti memikirkannya, lebih baik Bung menuliskan, aku mendiktekannya."

Bung Karno sempat menanyakan kepada Ahmad Subardjo. "Masih ingatkah Saudara teks dari Bab Pembukaan Undang-undang Dasar kita?" Teks itu ditanyakan karena Bung Karno memerlukan kalimat-kalimat yang menyangkut proklamasi.

Terjadi perdebatan setelah Bung Hatta menanyakan siapa saja yang harus ikut menandatangani naskah proklamasi itu. Akhirnya Sayuti Melik, setelah berunding dengan tokoh lain melontarkan idenya kemada Sukarni.

Langsung dilontarkan Sukarni, "Bukan kita semuanya yang hadir di sini harus menanda tangani naskah itu. Cukuplah dua orang saja menanda tangani atas nama rakyat Indonesia, yaitu Bung Karno dan Bung Hatta."

Ikada atau Pegangsaaan Timur

Sukarni menyatakan naskah proklamasi harus dibacakan di Lapangan Ikada karena sudah memberitahukan kepada rakyat agar mendatangi lapangan itu. Usul itu ditolak Sukarno. "Lebih baik dilakukan di tempat kediaman saya, Pegangsaan Timur. Pekarangan di depan rumah cukup luas untuk ratusan orang. Untuk apa kita harus memancing-mancing insiden."

Polemik pembacaan itu terjadi pukul 03.00 pagi. Akhirnya Bung Karno memutuskan, "Karena itu, saya minta saudara sekalian untuk hadir di Pegangsaan Timur 56 pukul 10.00 pagi".

Selesai naskah proklamasi diketik Sayuti Melik, keluarlah Laksamana Maeda dengan beberapa orang Jepang dan mengucapkan selamat.

Pukul 9.50, 17 Agustus 1945

Beberapa orang nampak gelisah karena Bung Hatta tidak kunjung datang. Bung Karno pun bersikeras tidak akan membacakan bersama tanpa kehadiran rekanya itu. Akhirnya lima menit menjelang pukul 10.00 Hatta datang dan disambut meriah.

Dalam buku Sepekan Menjelang Kemerdekaan yang ditulis Buntje Harbunangin, selesai membacakan naskah proklamasi, Bung Karno memberikan pidato singkatnya. "Demikianlah saudara-saudara, kita sekarang telah merdeka. Tidak ada satu ikatan lagi yang mengikat tanah air kita dan bangsa kita. Mulai saat ini kita menyusun negara kita. Negara Merdeka, dengan Republik Indonesia merdeka, kekal dan abadi. Insya Allah, Tuhan memberkati kita, kemerdekaan kita ini"

Evan/PDAT Sumber Diolah Buku Buntje Harbunangin

Iklan



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan

Kisah Daud Beureueh, Jejak Pejuang Kemerdekaan Asal Aceh yang Berontak

1 hari lalu

Daud Beureueh. Foto : wikipedia
Kisah Daud Beureueh, Jejak Pejuang Kemerdekaan Asal Aceh yang Berontak

Daud Beureueh berontak dengan mendirikan NII akibat pelanggaran perjanjian dengan rakyat Aceh oleh Sukarno dan ketidakpuasannya terhadap Jakarta.


5 Fakta Stasiun Manggarai, Stasiun Termegah Hingga Jadi Bengkel Kereta Api

6 hari lalu

Suasana di Stasiun Manggarai, Jakarta, Jumat, 10 Mei 2024. Pemerintah berencana akan menaikan tarif kereta Commuteline Jabodetabek pada tahun ini. Rencana penyesuaian tarif KRL Commuterline ini sudah dibahas dengan Kementerian Perhubungan, termasuk potensi tarif menjadi naik. Tarif dasar diusulkan naik sebesar Rp2.000, atau jadi Rp5.000 untuk 25 kilometer pertama. Sementara tarif lanjutan 10 kilometer berikutnya tidak naik, atau tetap Rp1.000. TEMPO/Martin Yogi Pardamean
5 Fakta Stasiun Manggarai, Stasiun Termegah Hingga Jadi Bengkel Kereta Api

Fakta dan sejarah Stasiun Manggarai yang menjadi stasiun tersibuk di Indonesia.


Prabowo Sebut Bung Karno Bukan Milik Satu Partai, Ini Reaksi Para Politikus PDIP

32 hari lalu

Presiden terpilih Prabowo Subianto saat menghadiri rapat koordinasi nasional (rakornas) pilkada Partai Amanat Nasional (PAN) di Hotel JS Luwansa, Jakarta Selatan, Kamis, 9 Mei 2024. Dalam sambutannya, Prabowo memuji kesetiaan PAN atas dukungannya. Setidaknya PAN sudah mendukung Prabowo selama 15 tahun. TEMPO/Martin Yogi Pardamean
Prabowo Sebut Bung Karno Bukan Milik Satu Partai, Ini Reaksi Para Politikus PDIP

Presiden terpilih Prabowo Subianto mengatakan, Bung Karno milik seluruh rakyat Indonesia. Apa kata para politikus PDIP?


Kata Pengamat dan PDIP soal Prabowo Sebut Ada Partai Klaim Miliki Bung Karno

33 hari lalu

Presiden terpilih Prabowo Subianto saat menghadiri rapat koordinasi nasional (rakornas) pilkada Partai Amanat Nasional (PAN) di Hotel JS Luwansa, Jakarta Selatan, Kamis, 9 Mei 2024. Dalam sambutannya, Prabowo memuji kesetiaan PAN atas dukungannya. Setidaknya PAN sudah mendukung Prabowo selama 15 tahun. TEMPO/Martin Yogi Pardamean
Kata Pengamat dan PDIP soal Prabowo Sebut Ada Partai Klaim Miliki Bung Karno

Prabowo menyindir bahwa selalu ada partai politik yang mengaku-ngaku memiliki Bung Karno. Apa kata PDIP dan pengamat?


25 Link Twibbon untuk Semarakkan Hari Kartini 2024

52 hari lalu

Raden Ajeng Kartini. Wikipedia/Tropenmuseum
25 Link Twibbon untuk Semarakkan Hari Kartini 2024

Pemerintah Sukarno memilih hari Kartini untuk diperingati sebagai momentum khusus emansipasi wanita


Pembentukan Pramuka di Indonesia: Dari Era Belanda hingga Presiden Sukarno

2 April 2024

Sejumlah anggota Pramuka melakukan atraksi tongkat pada upacara pembukaaan Jambore Nasional Gerakan Pramuka di Buperta Cibubur, Jakarta, Minggu, 14 Agustus 2022. Jambore Nasional Gerakan Pramuka yang berlangsung pada 14 hingga 21 Agustus 2022 ini digelar dengan tema Ceria, Berdedikasi dan Berprestasi bertujuan membentuk sikap, perilaku, keterampilan, dan pengalaman kode kehormatan Pramuka Satya dan Darma Pramuka. ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha
Pembentukan Pramuka di Indonesia: Dari Era Belanda hingga Presiden Sukarno

Ekskul Pramuka di sekolah bakal bersifat sukarela seiring dengan Permendikbudristek Nomor 12 Tahun 2024. Berikut sejarah panjang Pramuka di Indonesia.


Rangkaian Momen Sebelum Soeharto Naik Menjadi Presiden Gantikan Sukarno 56 Tahun Lalu

27 Maret 2024

Letjen Soeharto (kiri), Soekarno, Sultang Hamengku Buwono IX, dan Adam Malik pada rapat Kabinet Ampera1, 25 Juli 1966. Dok. Rusdi Husein
Rangkaian Momen Sebelum Soeharto Naik Menjadi Presiden Gantikan Sukarno 56 Tahun Lalu

Naiknya Soeharto sebagai presiden menggantikan Sukarno berawal dari kemelut politik yang rumit pasca peristiwa G30S


Mengenang 31 Tahun Mohammad Natsir Berpulang: Menengok Ide Negara dan Agama

7 Februari 2024

Mohammad Natsir. Dok.TEMPO/Ali Said
Mengenang 31 Tahun Mohammad Natsir Berpulang: Menengok Ide Negara dan Agama

Mohammad Natsir merupakan pemikir, politikus, sekaligus pendakwah.


Klaim Prabowo soal Food Estate: Pemikiran Strategis Bung Karno

31 Januari 2024

Presiden Joko Widodo (kedua kanan) didampingi Menteri Pertahanan Prabowo Subianto (kanan) meninjau lahan yang akan dijadikan
Klaim Prabowo soal Food Estate: Pemikiran Strategis Bung Karno

Prabowo Subianto heran mengapa banyak tokoh nasional yang mempertanyakan urgensi food estate.


Suhu Politik Sebelum Peristiwa G30S 1965: Fakta-fakta Angkatan Kelima yang Diusulkan PKI

28 September 2023

Jenderal Ahmad Yani. Wikipedia
Suhu Politik Sebelum Peristiwa G30S 1965: Fakta-fakta Angkatan Kelima yang Diusulkan PKI

Pada 1965 PKI mengusulkan Angkatan Kelima, sebuah matra militer beranggotakan buruh dan tani yang dipersenjatai. Letjen Ahmad Yani menolak ide itu.