Selasa, 17 Juli 2018

JK: Toleransi di Indonesia Lebih Baik Dibanding Negara Lain

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Presiden Jusuf Kalla memberi pengarahan kepada peserta ASEAN Youth Interfaith Camp 2017 di Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum, Jombang, Jawa Timur, 29 Oktober 2017. TEMPO/Ahmad Faiz

    Wakil Presiden Jusuf Kalla memberi pengarahan kepada peserta ASEAN Youth Interfaith Camp 2017 di Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum, Jombang, Jawa Timur, 29 Oktober 2017. TEMPO/Ahmad Faiz

    TEMPO.CO, Jombang - Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan toleransi umat beragama di Indonesia lebih baik dibandingkan negara-negara lain. Tak heran jika Indonesia sering menjadi rujukan negara lain untuk belajar menjalankan toleransi.

    Kalla mengatakan hal itu saat berbicara di depan ratusan pemuda dari berbagai negara dalam acara ASEAN Youth Interfaith Camp (AYIC) 2017 di Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (UNIPDU), Jombang, Jawa Timur, Minggu, 29 Oktober 2017. Dia memaparkan toleransi antarumat beragama di Indonesia.

    JK mengatakan ada banyak peninggalan dari para pendiri bangsa yang menunjukkan bagaimana toleransi antarumat beragama di Indonesia terjalin. Contohnya soal peringatan hari raya keagamaan yang diakui sebagai hari libur nasional, meski jumlah penganut agama tersebut sedikit.

    Baca juga: JK Beri Arahan kepada Santri Internasional di Acara AYIC 2017

    "Buddha yang pemeluknya hanya satu persen pun ada hari rayanya. Ini tidak terjadi di negara lain di dunia ini," kata JK. Dia membandingkan kenyataan ini dengan negara-negara lainnya, misalnya Cina dan Thailand. "Di Cina, di Thailand yang mayoritas Buddha dan Hindu ada enggak Idul Fitri? Enggak ada," ujar JK.

    Di negara ASEAN lainnya, yaitu di Filipina, kata JK, penetapan Idul Fitri sebagai hari libur nasional juga baru-baru saja dilakukan, pada 3-4 tahun lalu.

    Baca juga: JK Hadiri Asean Youth Interrfaith Camp 2017 di Jombang

    Selain soal penetapan hari raya keagamaan, JK melanjutkan, pengakuan keragaman juga ada pada susunan kabinet yang dibentuk pemerintah. Menteri-menteri di Indonesia menganut agama yang berbeda-beda. Begitu pula di tingkat daerah. Meski mayoritas penduduk beragama Islam, ada sejumlah provinsi yang dipimpin gubernur dari nonmuslim. Itu menandakan bahwa Indonesia tidak membeda-bedakan pemeluk agama. Generasi muda perlu memahami bagaimana membina toleransi dan harmoni tersebut.

    Menurut JK, toleransi dan harmoni di antara umat beragama bisa terbangun bila satu sama lain saling mengenal. "Setelah saling memahami, respect each other," katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Prancis Menjadi Juara Piala Dunia 2018, Mengalahkan Kroasia

    Tim Nasional Prancis mengangkat trofi Piala Dunia 2018 setelah menekuk Kroasia dengan skor 4-2 dan menorehkan pelbagai catatan menarik.