Jokowi: Masih Sedikit Pekerja Konstruksi Bersertifikat

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo meletakkan batu pertama pembangunan Rumah Sakit Darul Arqam usai Rapat Koordinasi Nasional Pondok Pesatren Muhammadiyah Darul Arqam, di Kabupaten Garut, Jawa Barat, 17 Oktober 2017. TEMPO/Sigit Zulmunir

    Presiden Joko Widodo meletakkan batu pertama pembangunan Rumah Sakit Darul Arqam usai Rapat Koordinasi Nasional Pondok Pesatren Muhammadiyah Darul Arqam, di Kabupaten Garut, Jawa Barat, 17 Oktober 2017. TEMPO/Sigit Zulmunir

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengingatkan para pekerja bangunan atau proyek infrastruktur segera ikut uji sertifikasi. Sebab, kata dia, masih sedikit pekerja proyek infrastruktur yang tersertifikasi. Jokowi sebelumnya bertanya kepada Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono mengenai tenaga kerja konstruksi di seluruh Indonesia yang jumlahnya sekitar 7 juta.

    “Dari 7 juta, yang bersertifikat baru 9 persen, sekitar 600 ribu. Artinya, masih sedikit sekali," ujar Jokowi di Gelora Bung Karno saat memberikan sertifikat dan meninjau persiapan Asian Games 2018, Kamis, 19 Oktober 2017.

    Baca: Responden Empat Survei Memuji Program Infrastruktur Jokowi...

    Pekerja konstruksi yang menerima sertifikat pada hari ini berjumlah 9.700 orang. Mereka datang dari berbagai bidang, mulai Bina Marga hingga pengelolaan sumber daya air.

    Menurut Jokowi, jumlah pekerja konstruksi bersertifikat kontras dengan jumlah proyek infrastruktur di Indonesia. Ia mengingatkan, Indonesia sedang gencar mendongkrak pembangunan infrastruktur untuk memperbaiki pertumbuhan ekonomi.

    Baca juga: Tiga Tahun Jokowi-JK, MPR Puji Pembangunan...

    Sebagai gambaran, kata Jokowi, Indonesia memiliki 24 proyek di Kalimantan, 27 proyek di Sulawesi, 13 proyek di Papua, dan 61 proyek di Sumatera. Dengan jumlah proyek sebanyak itu, jumlah pekerja konstruksi berkualitas pun harus makin banyak.

    "Dengan tenaga kerja konstruksi yang terlatih dan bersertifikat, saya yakin kita bisa mengejar ketertinggalan infrastruktur, terutama kualitasnya. Jika orang Jepang bisa membangun dengan kualitas yang baik, orang Jerman bisa membangun dengan kualitas yang baik, kenapa kita di Indonesia tidak?” ucap Jokowi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gonta-ganti UN, dari Ujian Negara hingga Kebijakan Nadiem Makarim

    Nadiem Makarim akan mengganti Ujian Nasional dengan Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter. Gonta-ganti jenis UN sudah belangsung sejak 1965.