Divonis 15 Tahun, Setya Novanto Tak Mau Makan Seharian

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Terdakwa mantan ketua DPR, Setya Novanto dikawal ketat saat memasuki mobil tahanan setelah mengikuti sidang pembacaan vonis di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, 24 April 2018. TEMPO/Imam Sukamto

    Terdakwa mantan ketua DPR, Setya Novanto dikawal ketat saat memasuki mobil tahanan setelah mengikuti sidang pembacaan vonis di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, 24 April 2018. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Fredrich Yunadi mengatakan Setya Novanto tidak mau makan selama seharian setelah menerima vonis 15 tahun penjara. "Seharian beliau enggak mau makan, sedih terus," kata dia saat skors persidangannya di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Kamis, 26 April 2018.

    Fredrich mengetahui kondisi Setya lantaran ditahan di rumah tahanan yang sama. Keduanya ditahan di Rumah Tahanan Kelas 1 Cabang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Kuningan, Jakarta.

    Baca juga: Hak Politik Setya Novanto Dicabut Selama Lima Tahun

    Pada Selasa, 24 April 2018, majelis hakim Tindak Pidana Korupsi menghukum Setya Novanto 15 tahun penjara dan denda Rp 500 juta subsider 3 bulan kurungan. Hakim menyatakan Setya terbukti bersalah melakukan korupsi dalam proyek kartu tanda penduduk elektronik atau e-KTP.

    Selain hukuman badan, Setya Novanto diwajibkan membayar uang pengganti senilai US$ 7,3 juta dikurangi Rp 5 miliar seperti yang sudah dia kembalikan. Hakim juga mencabut hak politik Setya selama lima tahun setelah menjalani hukuman.

    Fredrich mengatakan Setya Novanto pasrah menerima hukuman itu. Namun mantan pengacara Setya itu emoh mengomentari soal putusan terhadap mantan kliennya. "Pengacaranya nanti akan tersinggung," ucapnya.

    Baca juga: ICW Jelaskan Vonis Setya Novanto Terlalu Rendah

    Fredrich kini berstatus terdakwa kasus merintangi penyidikan korupsi e-KTP Setya Novanto. Jaksa KPK mendakwa Fredrich sudah merekayasa perawatan Setya di Rumah Sakit Medika untuk menghalangi penyidikan KPK. (*)

    Lihat juga video: Bermodal Sofa Bekas, Anak Muda Ini Menjadi Salah Satu Raja Kafe Kopi



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Obligasi Ritel Indonesia Seri 016 Ditawarkan Secara Online

    Pemerintah meluncurkan seri pertama surat utang negara yang diperdagangkan secara daring, yaitu Obligasi Ritel Indonesia seri 016 atau ORI - 016.