Minggu, 15 September 2019

Ini Alasan Penolak Peringatan Asyuro di Semarang

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ribuan umat berdoa bersama saat memperingati hari Asyura yang jatuh pada hari ke 10 bulan Muharram di Balai Samudra klapa gading, Jakarta, (26/11) Acara ini bertemakan Raih Keadilan Bebaskan Al Aqsha dan Tegakkan Ukhuwah dan Keutuhan NKRI. TEMPO/Dasril Roszandi

    Ribuan umat berdoa bersama saat memperingati hari Asyura yang jatuh pada hari ke 10 bulan Muharram di Balai Samudra klapa gading, Jakarta, (26/11) Acara ini bertemakan Raih Keadilan Bebaskan Al Aqsha dan Tegakkan Ukhuwah dan Keutuhan NKRI. TEMPO/Dasril Roszandi

    TEMPO.CO, Semarang - Penganut Syiah di Jawa Tengah akan menggelar peringatan 10 Muharram atau yang biasa disebut Asyuro pada Rabu 12 Oktober 2016. Tapi, rencana ini ditolak kelompok yang menamakan diri Laskar Umat Islam. “Kami minta agar aparat kepolisian tidak memberikan izin acara asyuro itu,” kata aktivis Laskar Umat Islam (Luis) Edi Lukito kepada Tempo, Senin 10 Oktober 2016.

    Pekan lalu, penolak acara Syiah itu mendatangi Polda Jawa Tengah dan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Tengah. Mereka mendesak agar pemerintah tak memberikan izin kegiatan kepada penganut Syiah.

    Bahkan, pada Selasa 11 Oktober 2016, mereka akan menggelar apel siaga dengan mengangkat tema: “Tolak Syiah dan PKI”. Kegiatan di Simpanglima Semarang itu diadakan beberapa organisasi, seperti Jemaah Ansyorusy Syariah Jawa Tengah, Gerakan Pemuda Ka’bah, Laskar Umat Islam Solo, Persis Semarang dan lain-lain.

    Edi Lukito menyatakan, dia dan kawan-kawannya datang ke Polda Jawa Tengah untuk menunjukan taat pada hukum. Aktivis Dewan Syariah Surakarta ini beralasan, jika penganut Syiah menggelar acara maka berpotensi terjadi kericuhan. Edi mencontohkan selama ini sudah sering terjadi bentrok antara Syiah dan Sunni. “Ini menyangkut keamanan negara. Maka kalau minta izin jangan dikasih,” ujarnya.

    Pemerintah Provinsi Jawa Tengah sudah mengelar mediasi membahas polemik soal rencana acara asyuro. Salah satu hasilnya, penganut Syiah tetap menggelar acara. Tapi, kegiatan di tanggal 10 Muharaam yang sedianya digelar di Gedung Pusat Kesenian Jawa Tengah Komplek PRPP Semarang itu dipindah lokasinya ke Masjid Yayasan Nuruts Tsaqolain, Petek, Kota Semarang.

    Bagi penganut aliran Syiah, 10 Muharram merupakan hari yang amat penting. Setiap tanggal tersebut, mereka menggelar acara haul Sayyidina Husain Bin Ali yang merupakan cucu Nabi Muhammad SAW. Selama beberapa tahun terakhir, penganut Syiah terbiasa menggelar peringatan Asyuro. Tempatnya berpindah-pindah. Biasanya acaranya adalah melafalkan doa-doa serta melantunkan lagu-lagu syiir. Selama ini, kegiatan Syiah berjalan lancar tak ada hambatan berarti.

    Salah satu tokoh Syiah di Jawa Tengah, Miqdad Turkan menyatakan penganut Syiah merupakan warga negara Indonesia yang berhak melakukan kegiatan. “Kami adalah Jamaah Ahlul Bait yang memiliki komitmen dengan bangsa Indonesia,” kata Miqdad yang merupakan murid Abdul Ghadir Bafaqih, pendiri aliran Syiah di Jepara. Menurut dia, penganut Syiah di Jawa Tengah selalu mengawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan “Indonesia Raya” tiap menggelar kegiatan.

    ROFIUDDIN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lima Warisan Iptek yang Ditinggalkan BJ Habibie si Mr Crack

    BJ Habibie mewariskan beberapa hal yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Warisannya berupa lembaga, industri, dan teori kelas dunia.