Selasa, 17 September 2019

Diminta Akbar Tandjung Mundur dari Golkar, Setya Novanto Bungkam

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua DPR Setya Novanto, seusai pembukaan masa sidang pada rapat paripurna DPR, berusaha menghindari wartawan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, 15 November 2017. Tempo / Arkhelaus W.

    Ketua DPR Setya Novanto, seusai pembukaan masa sidang pada rapat paripurna DPR, berusaha menghindari wartawan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, 15 November 2017. Tempo / Arkhelaus W.

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Umum Partai Golkar Setya Novanto, bungkam saat ditanya soal permintaan agar dirinya mundur dari kepemimpinan Partai Golkar. Permintaan ini dilontarkan oleh Wakil Dewan Kehormatan Partai Golkar, Akbar Tandjung.

    Setya diam seribu bahasa saat wartawan mencegatnya seusai rapat paripurna pembukaan masa persidangan ke-II Tahun Sidang 2017-2018 di Kompleks Parlemen, Senayan Jakarta.

    Ketua Dewan Perwakilan Rakyat itu hanya buka suara sedikit saat awak media menanyakan alasan ketidakhadirannya di Komisi Pemberantasan Korupsi hari ini. Rencananya, ia bakal diperiksa sebagai tersangka dugaan korupsi pengadaan proyek Kartu Tanda Penduduk elektronik.

    Baca juga: Cemas Golkar Kiamat, Akbar Tandjung Desak Setya Novanto Diganti

    Ia hanya mengatakan akan menunggu putusan Mahkamah Konstitusi terkait uji materi Undang-Undang tentang KPK yang didaftarkan pihaknya. "Saya kan ajukan ke MK, kami tunggu aja, hormati MK," kata Setya Novanto di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu, 15 November 2017.

    Selain pertanyaan itu, Setya memilih diam. Meski wartawan terus menempelnya sejak di depan ruang rapat paripurna di Gedung Nusantara II hingga di lobi Gedung Nusantara III, Setya tetap bungkam.

    Berbagai pertanyaan yang dilontarkan wartawan tak digubrisnya. Termasuk saat diminta tanggapan atas permintaan mundur dari Akbar Tandjung.

    Sebelumnya, Akbar berujar dirinya khawatir kasus yang menjerat Setya Novanto, berdampak buruk bagi partai di Pemilu 2019. Ia mengaku takut status Setya Novanto sebagai tersangka membuat elektabilitas Golkar di bawah 4 persen dan terancam tidak lolos parliamentary threshold.

    Baca juga: Mangkir Panggilan KPK, Setya Novanto: Saya Harus Pidato

    Menurut Akbar, seorang ketua umum sangat berperan dalam menentukan keberhasilan dan mempengaruhi opini publik terhadap partai. "Kalau pemimpinnya di mata publik, katakanlah tidak acceptable, bisa mengakibatkan tren publik terhadap Golkar juga mengalami penurunan," katanya kemarin.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Google Doodle, Memperingati Chrisye Pelantun Lilin-Lilin Kecil

    Jika Anda sempat membuka mesin pencari Google pada 16 September 2019, di halaman utama muncul gambar seorang pria memetik gitar. Pria itu Chrisye.