Kabut Asap, Luhut Minta BNPB Teruskan Hujan Buatan  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kabut asap pekat menyelimuti perkantoran di Pekanbaru, Riau, 23 Oktober 2015. Asap pekat yang menguning membuat aktivitas penerbangan di Bandara Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru lumpuh. TEMPO/Riyan Nofitra

    Kabut asap pekat menyelimuti perkantoran di Pekanbaru, Riau, 23 Oktober 2015. Asap pekat yang menguning membuat aktivitas penerbangan di Bandara Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru lumpuh. TEMPO/Riyan Nofitra

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Luhut Binsar Pandjaitan meminta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika serta Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi untuk kembali membuat hujan buatan. Sejumlah daerah di Kalimantan sudah berhasil menikmati hujan buatan sehingga jumlah titik api di daerah tersebut turun.

    "Hujan sudah mulai turun, nah kita ingin BNPB melakukan attacking ke awan-awan yang muncul," ujar Luhut di gedung BNPB, Rabu, 28 Oktober 2015.

    Luhut meminta tiga lembaga memanfaatkan betul hujan yang turun di sejumlah daerah. Selain kepada BNPB, Luhut langsung mengarahkan pelaksana tugas Gubernur Riau untuk berkoordinasi dengn BPBD, BMKG, dan BPPT.

    "Sehingga, ketika ada hujan, langsung terbang untuk buat hujan buatan. Ini bicara per jam karena peluang awan muncul itu sejam-dua jam," katanya melalui saluran video conference. Menurut Luhut, jika hujan terus-terusan turun dalam pekan ini, ia yakin pekan depan seluruh titik api habis.

    "Siap laksanakan," ujar Plt Gubernur Riau Arsyadjuliandi Rachman.

    Andi, sapaan Arsyadjuliandi, mengatakan jarak pandang di Pekanbaru sudah mencapai 2.000 meter dan satu pesawat Batik Air telah berhasil mendarat pagi tadi.

    Operasi Teknologi Modifikasi Cuaca, yang dilakukan di Kalimantan Barat, membuahkan hasil. Hujan yang langsung turun pada hari pertama operasi membuat jumlah titik panas (hot spot) menurun. Hasilnya, titik panas yang semula berjumlah 91 menjadi 32.

    TIKA PRIMANDARI

    Video Terkait:



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sebab dan Pencegahan Kasus Antraks Merebak Kembali di Gunungkidul

    Kasus antraks kembali terjadi di Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta. Mengapa antraks kembali menjangkiti sapi ternak di dataran tinggi tersebut?