Kamis, 22 November 2018

3 Perubahan di Pemilu 2019 Versi Survei LSI Denny JA

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Peneliti Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA, Adjie Alfaraby memberi keterangan pers terkait hasil survei terbaru Pilkada DKI Jakarta putaran kedua di kantornya, 7 Maret 2017. Tempo/Avit Hidayat

    Peneliti Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA, Adjie Alfaraby memberi keterangan pers terkait hasil survei terbaru Pilkada DKI Jakarta putaran kedua di kantornya, 7 Maret 2017. Tempo/Avit Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Peneliti Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA, Adjie Al Faraby, mengatakan ada tiga potensi perubahan dalam Pemilihan Umum atau Pemilu 2019. Hal ini diketahui berdasarkan hasil survei lembaganya pada 12-19 Agustus 2018.

    Baca juga: Survei LSI Denny JA: Elektabilitas Jokowi - Ma'ruf 52,2 Persen

    1. PDIP berpotensi jadi juara pemilu dua kali berturut-turut

    Dalam Pemilu 2019 mendatang, PDIP diperkirakan juara lagi. Ini akan menjadikan partai yang dipimpin Megawati Soekarnoputri itu sebagai juara pemilu dua kali berturut-turut setelah era reformasi.

    Pada pemilu 2014, PDIP menjadi pemenang dengan raihan suara 18,9 persen. Adapun untuk 2019, LSI Denny JA memprediksi suara partai berlambang kepala banteng itu mencapai 24,8 persen.

    "Ibarat sepak bola, PDIP berpeluang menjadi Real Madrid, yang menjadi juara Liga Champion berturut-turut," kata Adjie di kantor LSI Denny JA, Rawamangun, Jakarta, Rabu, 12 September 2018.

    2. Gerindra berpotensi jadi juara kedua

    Adjie berujar Partai Gerakan Indonesia Raya atau Gerindra pimpinan Prabowo Subianto berpotensi menjadi juara kedua di luar PDIP dan Golkar. Dalam surveinya untuk Pemilu 2019, Gerindra meraih suara 13,1 persen.

    "Dalam empat kali pemilu era reformasi, posisi runner-up tidak pernah diperoleh oleh partai di luar PDIP dan Golkar," ucapnya.

    3. Partai Golkar terancam tak masuk dua besar

    Partai Golkar terancam tidak masuk dua besar pemenang pemilu untuk pertama kali. Padahal sejak pemilu 1999 Golkar selalu masuk jajaran dua besar dan pernah menjadi pemenang dalam Pemilu 2004. Dalam Pemilu 2019, Golkar diprediksi berada di posisi ketiga dengan elektabilitas 11,3 persen.

    Menurut Adjie, perubahan elektabilitas Golkar ini akibat tidak ada kadernya yang menjadi calon presiden atau wakil presiden 2019. Selain itu, Golkar terkena efek kasus korupsi yang dilakukan para petingginya, seperti Setya Novanto dan Idrus Marham.

    Baca juga: Jokowi - Ma'ruf Amin: Politik Identitas Vs Isu Ekonomi

    "Sentimen negatif yang terus menimpa Partai Golkar nampaknya belum diimbangi dengan mobilisasi sentimen positif," ujar Adjie.

    Survei LSI Denny JA ini dilakukan pada 12-19 Agustus 2018 lewat wawancara tatap muka dengan instrumen kuesioner. Metode yang digunakan adalah multistage random sampling dengan 1.200 responden dan margin of error lebih-kurang 2,9 persen.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kementerian PANRB: Standar Kelulusan Ujian CPNS 2018 Diturunkan

    Standar Kelulusan Ujian CPNS 2018 tahap Seleksi Kemampuan Dasar akan diturunkan oleh Kementerian PANRB akibat jumlah peserta yang lulus seleksi kecil.