Bonek Surabaya Lawan Terorisme, Spanduk Jancuk Bertebaran

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Polisi berjaga saat berlangsung penggeledahan di rumah terduga teroris di kawasan Dukuh Pakis,  Surabaya, 17 Mei 2018. Rumah tersebut merupakan tempat tinggal orang tua Ilham Fauzan yang ditembak Densus 88 di Sidoarjo, 14 Mei lalu. ANTARA/Zabur Karuru

    Polisi berjaga saat berlangsung penggeledahan di rumah terduga teroris di kawasan Dukuh Pakis, Surabaya, 17 Mei 2018. Rumah tersebut merupakan tempat tinggal orang tua Ilham Fauzan yang ditembak Densus 88 di Sidoarjo, 14 Mei lalu. ANTARA/Zabur Karuru

    TEMPO.CO, Surabaya - Situasi Surabaya berangsur pulih dari sasaran aksi terorisme. Tapi warga masih marah setelah bom meledak di tiga gereja, Ahad dan Senin lalu, 13-14 Mei 2018. Amarah itu terekam di kain rentang berwarna putih tergantung dari atas jembatan tol Banyu Urip, kawasan Simo yang juga kantong Bonek—sebutan bagi supporter Persebaya.

    Tak hanya satu, tapi enam lembar sekaligus dengan goresan tangan bertuliskan kata-kata makian. “Fuck Terrorism.” “Teroris Jancuk! Kutunggu kau di pintu neraka.” “Kami tidak takut. Kami titisan para pejuang!” dan masih banyak lagi. 

    Baca:  Satu Keluarga Terlibat Terorisme, Begini Analisis Pengamat ...

    Di pusat kota bertebaran spanduk dengan nada serupa. Di ujung jalan sebelum memasuki bekas lokalisasi terbesar, Dolly, spanduk bertuliskan tangan juga terpajang. “Bersatu kita kuat. Bersama kita hebat. #Terorisjancok. Kebanyakan spanduk digantung di ketinggian yang terlihat mata; baik dari atas jembatan layang maupun tol.

    Pentolan Bonek Surabaya, Andie Pecie mengatakan memang sempat ada imbauan untuk memasang spanduk-spanduk itu. Imbauan direspon melalui grup WhatsApp Arek Bonek 1927. “Kami awalnya menyepakati dua jenis tagar; #SurabayaWani dan #KamiTidakTakut,” ujarnya saat dihubungi Tempo, Rabu, 13 Mei 2018.

    Namun, tiap kelompok pendukung Persebaya itu mengekspresikan kemarahan dengan berbagai kalimat. Ada yang heroik, ada pula makian. “Ya tidak apa, karena memang begitulah kultur arek-arek Suroboyo,” kata Andie.

    Bonek, kata Andie, melontarkan makian sebagai bentuk ekspresi kebenciannya terhadap terorisme. Dalam keseharian, makian ‘jancuk’ bisa berarti dua; simbol keakraban dan umpatan luapan kemarahan. “Kami memang tidak terbiasa basa-basi. Toh juga situasinya memaksa kami, Bonek untuk merespon tidak basa-basi. Jadi ini maknanya marah beneran.”

    Baca: Densus 88 Tangkap 13 Anggota yang Diduga Teroris JAD

    Sejak peristiwa pengeboman 3 gereja pada Ahad, 13 Mei 2018 hingga hari ini, pendukung Persebaya berkomitmen turut menjaga keamanan di lingkungan masing-masing. Bonek yang tersebar di kampung tiap kecamatan di Kota Pahlawan, berinisiatif mendeteksi orang-orang yang mencurigakan.

    Mengantisipasi kemungkinan ada aksi terorisme susulan, di tiap kecamatan, Bonek ikut membantu mendeteksi orang-orang yang bisa terindikasi membawa potensi teror.” Tapi Bonek rutin berkoordinasi dengan Camat dan Kapolsek. “Tidak boleh gerak sendiri,” kata Andie.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.