Mengapa Bom di Surabaya? Ini Kata Pengamat Terorisme

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Polisi berjaga saat berlangsung penggeledahan di rumah terduga teroris di kawasan Dukuh Pakis,  Surabaya, 17 Mei 2018. Penggeledahan dalam rangka penyelidikan lanjutan pascapenangkapan terduga teroris pasca Bom Surabaya. ANTARA/Zabur Karuru

    Polisi berjaga saat berlangsung penggeledahan di rumah terduga teroris di kawasan Dukuh Pakis, Surabaya, 17 Mei 2018. Penggeledahan dalam rangka penyelidikan lanjutan pascapenangkapan terduga teroris pasca Bom Surabaya. ANTARA/Zabur Karuru

    TEMPO.CO, Jakarta - Mantan narapidana terorisme yang kini menjadi pengamat terorisme, Ali Fauzi Manzi, mengatakan bom Surabaya pada Ahad, 13 Mei 2018, sebagai miftahus shirok. Dengan meledakkan bom di Surabaya, diharapkan bisa dilakukan di kota lain karena Surabaya termasuk kota besar. "Dan berhasil mereka lakukan di Riau. Ternyata mifrahus shirok yang mereka inginkan di Pekanbaru." kata Ali dalam Diskusi LIPI dengan tema "Memutus Mata Rantai Terorisme, Mungkinkah?" di kantor LIPI, Jakarta, Kamis, 17 Mei 2018.

    Ali mengatakan pelaku bom bunuh diri di tiga gereja Surabaya dalam satu keluarga termasuk jaringan baru teroris. Polisi pun tidak mengetahui keberadaan mereka.

    Baca: Risma Bentuk Trauma Center untuk Anak Pelaku Teror Bom Surabaya ...

    Di kalangan para teroris, Surabaya dikenal sebagai tempat reproduksi para calon teroris. "Berapa banyak pemain asal Surabaya? (Kasus) Bom Bali 1, Marriot 1, Marriot 2, Kedubes Australia, pelakunya berasal dari Surabaya." jarnya. Namun sejak 2000 Surabaya tidak tersentuh ledakan bom.

    Namun kali ini teror itu berdalih daf'us shoo'ii alias jihad dalam perspektif mereka untuk mengambil kehormatan. Ali mengatakan isu yang berkembang di kalangan jaringan teroris tentang kerusuhan Mako Brimob bukanlah soal nasi bungkus, namun karena adanya akhwat atau perempuan yang melalui pemeriksaan ditelanjangi, menurut informasi yang beredar. "Bahasa mereka, dia disekap. Hal membuat napi teroris di dalam sel emosi dan terbakar."

    Ali mengatakan salah satu pelaku bom di Surabaya, Dita Supriyanto, suami dan ayah dari pelaku lainnya, punya hubungan dengan narapidana terorisme. "Pelaku bom bunuh diri Surabaya punya gen teroris. Dita Supriyanto sesungguhnya adalah ponakan Sukastopo," ujar Ali.

    Baca: Anak Perempuan Selamat dari Ledakan Bom di Mapolrestabes ...

    Sukastopo ditangkap pada akhir 2002 karena terlibat dengan bom Bali I. Anak laki-lakinya juga disergap karena kasus yang sama. Ali pun memperlihatkan sebuah video seruan untuk meneror yang didasari dari kejadian di Markas Brimob. Yakni sebuah larangan kepada para napi di Mako Brimob untuk damai dengan polisi. "Diskusi dengan polisi dianggap haram oleh mereka."

    Kepala Polri Jenderal Tito Karnavian mengatakan serangkaian peledakan bom belakangan ini, di antaranya adalah bom Surabaya, dilakukan oleh jaringan Jamaah AnsharutDaulah. "Saya berani tunjuk hidung," kata Kapolri.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.