5 Hal yang Dianggap sebagai Intimidasi FPI terhadap Tempo

Reporter:
Editor:

Rina Widiastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemred Majalah Tempo, Arif Zulkifli (dua dari kiri), saat memberikan klarifikasi kepada ratusan massa Front Pembela Islam (FPI) yang berdemo di depan Kantor TEMPO Media Grup, Jakarta, 16 Maret 2018. Arif Zulkifli memberikan klarifikasi bersama Kepala Komunikasi Korporat  Wahyu Muryadi dan Pemred Koran Tempo, Budi Setyarso. TEMPO/Subekti.

    Pemred Majalah Tempo, Arif Zulkifli (dua dari kiri), saat memberikan klarifikasi kepada ratusan massa Front Pembela Islam (FPI) yang berdemo di depan Kantor TEMPO Media Grup, Jakarta, 16 Maret 2018. Arif Zulkifli memberikan klarifikasi bersama Kepala Komunikasi Korporat Wahyu Muryadi dan Pemred Koran Tempo, Budi Setyarso. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Jakarta - Dewan Pers menyesalkan terjadinya intimidasi yang dilakukan Front Pembela Islam (FPI) terhadap Tempo dalam aksi demonstrasi di Gedung Tempo pada Jumat, 16 Maret 2018. FPI memprotes pemuatan karikatur Tempo, pria berjubah dan bersurban putih yang berhadapan dengan seorang wanita di Majalah Tempo adalah imam besar mereka, yakni Rizieq Shihab.

    Ketua Dewan Pers, Yosep Stanley Adi Prasetyo, mengatakan seharusnya tidak perlu melakukan intimidasi. Menurut dia, kritik dari Tempo merupakan karikatur editorial yang menjadi produk jurnalistik Tempo. "Presiden saja sering dikritik melalui kartun opini. Seharunya tidak boleh marah," kata Stanley saat dihubungi Sabtu, 17 Maret 2018.

    Baca: Dewan Pers Menyesalkan Intimidasi FPI terhadap Tempo

    Menurut Stanley, karikatur editorial merupakan produk jurnalistik. FPI bisa menuntut hak jawab kepada Tempo. Mereka pun bisa melakukan upaya lebih lanjut dengan mengadukan ke Dewan Pers, bukan dengan penekanan massa ke kantor redaksi. "Tidak perlu demo, melakukan intimidasi sampai melempar air mineral segala," kata Stanley.

    SETARA Institue juga mengecam tindakan FPI tersebut. Wakil Ketua SETARA Institute, Bonar Tigor Naipospos mengatakan demo tersebut nyata-nyata merupakan intimidasi atas pers sebagai pilar keempat demokrasi.

    "Mobilisasi kerumunan massa (mob) secara fisik karena karya dan produk jurnalistik yang dimuat oleh media massa pada dasarnya adalah serangan fisik dan psikis atas media sebagai lembaga pengawal keadaban publik dalam demokrasi," kata Bonar dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, pada Sabtu, 17 Maret 2018.

    Baca: Setara Institute Kecam Aksi Massa FPI Saat Protes Karikatur Tempo

    Berikut tindakan FPI yang dianggap mengintimidasi Tempo.

    1. Tindakan FPI memobilisasi kerumunan massa (mob) secara fisik karena karya dan produk jurnalistik yang dimuat oleh media massa, menurut Bonar, adalah serangan fisik dan psikis atas media.

    2. Tekanan massa itu, menurut Stanley dapat menghambat proses kerja redaksi dalam bekerja. Intimidasi yang dilakukan bisa menggangu hak publik mendapatkan informasi.

    3. Saat diterima pimpinan redaksi Majalah Tempo, ada anggota FPI yang menggebrak meja dan melampar gelas air mineral ke tengah meja diskusi antara FPI dengan pimpinan redaksi Tempo.

    4. Intimidasi juga terjadi saat Pemimpin Redaksi Majalah Tempo Arif Zulkifli dituntut keluar untuk meminta maaf kepada massa FPI di luar gedung Tempo. Saat Arif memberikan penjelasan di atas mobil komando, ada seseorang yang menggunakan topi rimba dan menggunakan kemeja hijau mengambil kacamata Arif dan melemparkannya ke massa yang berada di sekitar mobil.

    5. Anggota FPI yang berada di bawah mobil komando kembali melempar gelas air mineral ke arah Azul, sapaan Arif Zulkifli, yang masih berada di atas mobil komando ketika aksi protes terhadap karikatur Tempo berlangsung. "Di atas mobil komando, mereka memaksa saya meminta maaf. Seseorang merebut kacamata dari muka saya dan membuangnya ke arah massa. Dia memakai topi rimba dan jaket hijau, saya tidak kenal siapa dia," kata Azul.

    DIAS PRASONGKO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sidang MK Terkait Sengketa Pilpres 2019 Berlangsung Dua Pekan

    Sidang MK terkait sengketa Pilpres 2019 memasuki tahap akhir. Majelis hakim konstitusi akan membacakan putusannya pada 27 Juni. Ini kronologinya.