Wacana Pemindahan Ibu Kota, Harga Tanah di Palangka Raya Melonjak  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bandara Tjilik Riwut di Palangkaraya. dok.TEMPO

    Bandara Tjilik Riwut di Palangkaraya. dok.TEMPO

    TEMPO.CO, Palangka Raya - Kabar rencana pemindahan ibu kota pemerintahan dari Jakarta ke Kalimantan Tengah berdampak terhadap harga jual tanah di Kota Palangka Raya. 

    Di Palangka Raya, harga jual tanah yang berada dalam kota atau di luar kota saat ini melonjak tajam. Semakin mahalnya harga tanah ini sudah diantisipasi warga dengan cara tidak menjual lahan mereka, terutama kepada para spekulan tanah.

    Baca: Siti Zuhro LIPI: Butuh 5 Tahun Lebih Pemindahan Ibu Kota Negara

    Dari pantauan Tempo di beberapa lokasi Jalan Mahir Mahar yang merupakan lintas luar (ringroad) dan Jalan Cilik Riwut, harga tanah per meternya sudah naik 100 persen. Meningkatnya harga tanah juga berlaku bagi lahan yang lokasinya sedikit di luar kota.

    Di Jalan Cilik Riwut KM 7, saat ini harga tanah sudah mencapai 300-400 ribu per meternya. Padahal 6-7 tahun lalu harganya sekitar Rp 100 ribu per meter.

    Sumarno, warga Jalan Cilik Riwut KM 8, Palangka Raya, mengaku mendapatkan keuntungan sangat besar saat ia menjual tanahnya yang berlokasi di Jalan Cilik Riwut KM 7.

    Simak: Mensesneg Sebut Pemindahan Ibu Kota demi Ekologi Jakarta

    "Tanah saya sebulan lalu dibeli orang yang ngaku-nya dari Jakarta Rp 400 juta. Padahal saya beli lima tahun lalu Rp 100 juta saja," ujarnya, Ahad, 9 Juli 2017.

    Menurut Sumarno, saat ini memang sangat banyak orang mencari tanah, terutama di lokasi strategis, seperti Jalan Cilik Riwut dan daerah pengembangan baru seperti Jalan Mahir Mahar.

    "Mereka memang sepertinya sedang berinvestasi untuk jangka panjang," ujar pengusaha yang memiliki puluhan tanah di beberapa lokasi di Palangka Raya itu.

    Lihat: Pemindahan Ibu Kota Negara, Pakar: Belum Ada Perencanaan Konkret

    Gubernur Kalimantan Tengah Sugianto Sabran mewanti-wanti masyarakat agar tidak gegabah menjual tanah. "Saya minta masyarakat untuk tidak menjual tanah mereka berkaitan dengan adanya wacana pemindahan ibu kota," ujar Sugianto saat acara donor darah dalam rangka ulang tahunnya di rumah dinas gubernur beberapa waktu lalu.

    Kondisi ini, menurut dia, harus disikapi dengan bijaksana. Sebab, jangan sampai seperti masyarakat Betawi di Jakarta yang banyak tidak memiliki tanah karena sudah dijual. "Saya minta jangan buru-buru dijual ditahan dululah, tapi kalau harganya cocoknya ya silakan dijual," ujarnya.

    KARANA W.W.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kerusuhan Manokwari, Bermula dari Malang Menjalar ke Sorong

    Pada 19 Agustus 2019, insiden Kerusuhan Manokwari menjalar ke Sorong. Berikut kilas balik insiden di Manokwari yang bermula dari Malang itu.