Petani Padi Kok Tak Bisa Makan Nasi? Begini Ceritanya

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petani memanen padi. TEMPO/Prima Mulia

    Petani memanen padi. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.CO, Kediri - Matahari belum naik saat Yeni menumpuk kayu di perapian. Peluhnya membasahi wajahnya yang tak pernah tersapu bedak. Sesekali dia meniup kolong tungku agar bara api tak lekas padam. Matanya terpejam saat asap pekat membekap.

    Usai berjibaku dengan tungku dan api, perempuan 33 tahun itu mengangkat dandang dari perapian. Tutup dandang dibuka lalu memuntahkan isinya ke bakul bambu. Isinya gatot, bekal sarapan Maftukin, suaminya yang akan segera berangkat ke sawah.

    Bagi masyarakat di lereng Gunung Wilis di Kabupaten Kediri, tempat Yeni tinggal, gatot adalah makanan “kelas dua” yang dikonsumsi saat tak ada nasi. Gatot adalah makanan yang diolah dari singkong atau ubi kayu.

    Singkong yang dikupas dan dibelah tipis-tipis dijemur di terik matahari hingga kering. Perlu waktu dua hingga tiga hari untuk menghilangkan kadar air singkong sebelum berubah nama menjadi gaplek. Proses fermentasi yang terjadi selama penjemuran memicu perubahan warna gaplek menjadi hitam. Pertumbuhan jamur dan bakteri ini pula yang mengubah tekstur irisan singkong menjadi kenyal.

    Setelah dilanjutkan dengan merendam sehari semalam, gaplek diangkat dan dipotong kecil-kecil. Potongan hitam lunak itulah yang ditanak seperti menanak nasi hingga berubah nama menjadi gatot. Gatot yang sudah masak kerap dicampur dengan parutan kelapa atau gula merah jika dikonsumsi anak-anak. Bagi masyarakat di kampung Yeni di Dusun Tunggul, Desa Selopanggung, Kecamatan Semen, gatot diyakini bernilai gizi sepadan nasi.

    Itu sebabnya, Maftukin melahap tandas sepiring gatot yang disiapkan istrinya pagi itu. Tanpa banyak kata, lelaki 39 tahun ini menyambar rantang berisi gatot yang telah dibungkus kain sebagai bekal makan siangnya di sawah.

    Namun, tidak begitu dengan dua anaknya yang masih kelas VI sekolah dasar dan balita usia 1,5 tahun. Anak sulung Yeni tak henti mengomel saat disodori gatot, meski ia mengeluh lapar. “Dia maunya makan nasi, tapi mau bagaimana lagi?” Hingga Selasa kemarin, 8 Maret 2016, sudah dua hari Yeni menanak gatot untuk keluarganya.

    Sejak dua tahun terakhir, kehidupan Yeni dan suaminya makin memburuk. Kelahiran anak kedua mereka memaksa Yeni berhenti ke sawah membantu suaminya. Bukan sebagai pemilik lahan atau juragan yang memborong hasil padi untuk dijual ke pasar, Yeni dan  Maftukin adalah buruh tani. Mereka bekerja untuk pemilik sawah yang memerlukan tenaga untuk membersihkan tanah, menanam padi, menyiangi rumput, hingga memotong dan memanen gabah.

    Menjadi buruh tani diterima keduanya sebagai ketetapan Tuhan. Yeni hanya tamat sekolah dasar. Ia telah menjadi buruh tani sejak masih bocah. Orang tuanya kerap mengajaknya ke sawah. “Daripada di rumah tidak ada temannya, saya ajak ke sawah sekalian biar belajar,” kata Seger, ibu Yeni yang hingga 67 tahun masih menemani suaminya Dalim menjadi buruh.

    Sebelum melahirkan anak kedua, Yeni masih ke sawah. Seusai menyiapkan sarapan untuk anak sulungnya yang akan pergi ke sekolah, Yeni dan Maftukin bergegas ke sawah. Mereka harus tiba di sawah tepat pukul 06.00 jika tak ingin ditegur yang bisa berakibat tidak mendapat pekerjaan lagi.

    Di sawah, pekerjaan lelaki dan perempuan berbeda. Pria menyiapkan tanah, mengairi sawah hingga memboyong bibit padi dari rumah juragan. Buruh perempuan menanam padi atau tandur. “Menanam padi tak pernah diberikan kepada laki-laki,” kata Yeni. Satu per satu bibit padi ditancapkan ke tanah dengan arah mundur.

    Untuk menanami lahan seperempat hektare, dibutuhkan 8 – 10 penanam. Makin luas areal tanamnya makin menguntungkan karena jumlah hari yang dibutuhkan untuk menanam akan makin lama. Ada dua waktu kerja untuk menanam. Yang bekerja pukul 06.00 – 10.30 dibayar Rp20 ribu per hari, dan pukul 06.00 – 14.00 dengan upah Rp40 ribu per hari. “Tergantung kesepakatan dengan juragan, juga kekuatan ini,” kata Yeni sambil menunjuk pinggangnya.

    Pekerjaan buruh tani jadi rebutan. Persaingan menjadi tajam seiring makin banyaknya kaum muda desa yang juga berminat menjadi buruh tani. Garapan menanam padi yang sebelumnya bisa dikerjakan hingga 10 hari kini bisa dipercepat hingga lima hari karena banyaknya tenaga penanam. Ini memaksa sebagian buruh tani pria mengejar garapan hingga ke luar kecamatan meski kadang tak sebanding dengan ongkos perjalanan.

    Upah menanam Rp100 ribu untuk Yeni dari lima hari kerja terpaksa digunakan untuk keperluan rumah tangga hingga beberapa hari. Anak sulungnya yang pulang sekolah pukul 12.00 juga tidak memungkinkannya bekerja hingga pukul 14.00.

    Jika tak ada garapan lain, Yeni harus menghemat uang Rp100 ribu itu hingga tiga bulan mendatang. Sebab garapan berikutnya baru akan datang saat memasuki masa panen yang kembali meminta bantuannya memotong dan menggebluk gabah.

    Dibutuhkan keberanian menawarkan tenaga dan mencari informasi pemilik lahan agar tetap mendapatkan garapan di sela waktu menanam hingga panen. Biasanya pada masa itu pemilik lahan meminta mereka menyiangi rumput yang tumbuh di sela tanaman padi. “Lumayan untuk membeli kebutuhan sekolah anak,” kata Samijem, bibi Yeni yang juga pontang- panting membiayai sekolah anak semata wayangnya di sekolah menengah kejuruan di kota dengan menjadi buruh tani.

    Setelah menanti hingga tiga bulan, panen pun tiba. Tak hanya pemilik lahan yang riang, para buruh tani pun sumringah berharap mendapat perintah memanen. Berbeda dengan menanam yang mendapat upah kerja harian, buruh tani mendapat jatah gabah yang dipanen dari pemilik lahan. Perhitungannya sederhana, untuk setiap delapan wadah gabah yang dipanen, mereka berhak mendapatkan satu wadah dari pemilik atau dengan komposisi 7:1 untuk pemilik lahan.

    Wadah yang dipakai bisa tempat saringan dari bamboo yang disebut tompo, timba, ataupun gayung mandi sebagai ukuran. Disaksikan pemilik lahan dan pekerja, perhitungan dilakukan bersama-sama agar tak saling curiga. Pembagian hasil panen ini dilakukan setelah buruh tani menyelesaikan rangkaian pekerjaan memotong batang padi, memisahkan bulir padi atau gabah dari batangnya dengan cara memukul pada alat pemisah dari kayu serta membawanya ke rumah juragan. Mengangkat gabah ke rumah juragan ini yang kerap dikeluhkan Yeni lantaran jarak rumah dan areal sawah yang jauh.

    Sistem bagi hasil ini membuat buruh tani turut menjaga dan mendoakan agar hasil panen milik juragan bagus. Makin bagus dan banyak produktivitas padinya, makin besar pula jatah mereka yang bisa dibawa pulang. “Meski tak punya sawah, kami ikut berdoa agar hasil panennya bagus,” kata Yeni.

    Jika nasib sedang mujur, Yeni dan suaminya bisa membawa pulang beras hingga 50 kilogram. Beras itulah rezeki penopang hingga mereka mendapat garapan lagi di musim panen depan.

    Namun, meski memiliki cukup banyak bekal beras, tak semuanya ditanak. Karena sedikit demi sedikit beras itu ditukarkan ke toko untuk mendapat bumbu dapur, gula, hingga kebutuhan rumah tangga seperti sabun dan pasta gigi. Permintaan anaknya untuk mengcopy lembaran buku pelajaran menjadi momok saat tak ada uang sepeser pun. Alhasil, beras yang seharusnya cukup untuk satu bulan, amblas hanya dalam dua pekan.

    Untuk menyambung kebutuhan makan sehari-hari, Yeni kerap berhutang beras kepada orang tua, bibi, dan juragannya. “Saya bayar dengan tenaga kalau besok menanam lagi.”

    Gatot adalah penyelamat saat pinjaman beras tak lagi lancar. Singkong adalah pilihan paling realistis bagi Yeni untuk menjaga tungku dapurnya mengepul. Beberapa pohon pepaya di belakang rumahnya penolong saat tak ada lauk. Hampir setiap hari ia memasak sayur pepaya yang hanya membutuhkan parutan kelapa dan garam sebagai bumbu.

    Lahirnya anak kedua membuat beban ekonominya. Selain tak lagi bisa membantu suaminya di sawah, jumlah perut yang harus diisi makin bertambah. Suaminya menjadi lebih lama di luar mencari garapan.

    Bersama ayah mertuanya, Maftukin bekerja pada juragan kacang tanah di Kecamatan Mojo yang tengah panen. Ini pekerjaan hanya untuk laki-laki karena perlu tenaga untuk mencabut kacang dari dasar tanah. Ladang kacang itu jaraknya lebih dari 20 kilometer dari rumahnya. Upahnya pun kerap tandas untuk membeli kopi dan obat pegal linu.

    Buruh perempuan biasa mengupas kacang tanah sebelum dijual ke pasar pasca panen kacang. Yeni, ibu dan bibinya biasa membantu mengupas dengan upah Rp1.500 per kilogram kacang kupas. Jika tak sedang repot, mereka bertiga mampu menyelesaikan kacang kupas sekitar 9–15 kilogram dalam sehari. Ini berarti upah yang harus dibagi bertiga sebesar Rp 22.500.

    Meski telah dilakoni selama berpuluh tahun dan turun temurun, mata pencaharian ini tak kunjung bisa memperbaiki kehidupan mereka. Kebutuhan makan tak terpenuhi, apa lagi memperbaiki rumah. Sebidang tanah peninggalan kakek buyutnya dibagi menjadi tiga bagian menjadi rumah yang dihuni Yeni, bibi, dan orang tuanya. Rumah berukuran 10 x 8 meter ini nyaris serupa susunan bata tanpa semen sebagai dinding dan alas tanah.

    Tak ada perabot apapun di rumah Yeni selain dua kursi kayu dan meja di ruang tamu. Kusen jendela hanya ditutup dengan palang kayu. Mereka tidur di kasur kapas tanpa alas. “Saya terima keadaan ini untuk berjuang agar anak saya sekolah tinggi dan tak jadi buruh tani,” ujar Yeni.

    Kondisi yang menimpa Yeni dan warga di Desa Selopanggung yang sebagian besar bekerja sebagai buruh tani ini tak seluruhnya luput dari perhatian pemangku pemerintah daerah setempat. Namun sayangnya Kepala Desa Selopanggung tak bersedia memberikan keterangan terkait kondisi warganya itu. Saat didatangi di kantor desa, dia justru mengalihkan kepada orang lain untuk memberikan keterangan sebelum menutup pintu kantor dan meninggalkan tempat.

    Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Kediri Iskak Maulana mengatakan buruh tani di daerahnya cukup besar. Dari luas wilayah kabupaten sebesar 963,21 kilometer persegi, sebanyak 60 persen merupakan kawasan pertanian. “Jumlah buruh taninya lebih banyak dibanding yang punya sawah.”

    Dia mengakui luas areal pertanian ini tak berbanding lurus dengan kesejahteraan pelaku pertanian, baik pemilik sawah maupun yang bekerja di dalamnya. Menurut dia ini dampak kebijakan nasional yang tak berpihak pada sektor pertanian, disamping kurangnya lapangan pekerjaan bagi masyarakat di pegunungan.

    Dia mencontohkan kehidupan buruh tani yang bergantung pada pemilik lahan tak bisa dilepaskan dari besar kecilnya nilai tukar hasil pertanian mereka. Hal ini tampak dari harga jual gabah yang terus merosot dari Rp 5.600 per kilogram tiga bulan lalu, kini hanya Rp 3.900. Ini pula yang membuat nilai tukar produk pertanian makin tak berdaya dibandingkan produk industri. “Sekarang harga celana jins bermerek sebanding dengan beras satu kwintal.”

    HARI TRI WASONO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sebab dan Pencegahan Kasus Antraks Merebak Kembali di Gunungkidul

    Kasus antraks kembali terjadi di Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta. Mengapa antraks kembali menjangkiti sapi ternak di dataran tinggi tersebut?