Begini Kejanggalan Amdal PT Semen Indonesia di Rembang

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga memeriksa air di Goa Gendongan, Desa Tegaldowo, Kecamatan Gunem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, 16 Agustus 2015. TEMPO/Budi Purwanto

    Warga memeriksa air di Goa Gendongan, Desa Tegaldowo, Kecamatan Gunem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, 16 Agustus 2015. TEMPO/Budi Purwanto

    TEMPO.CO, Jakarta - Pembangunan pabrik PT Semen Indonesia di Pegunungan Kendeng Utara, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, menuai pro dan kontra. Sebagian penduduk setempat yang didukung sejumlah ahli menilai analisis mengenai dampak lingkungan PT Semen Indonesia janggal.

    “Ada banyak cacat dalam amdal PT Semen Indonesia,” kata peneliti lingkungan dari Institut Pertanian Bogor, Soerya Adiwibowo. Soerya adalah anggota tim Kementerian Lingkungan Hidup yang meneliti kasus tersebut. Dia juga menjadi saksi ahli yang diajukan warga Kendeng Utara dalam perkara melawan PT Semen Indonesia. (Baca: Kenapa Pabrik Semen di Rembang Menuai Kontroversi?)

    Hasil kajian tim Kementerian Lingkungan Hidup yang salinannya diperoleh Tempo menyatakan amdal PT Semen Indonesia tak memaparkan kondisi lapangan sebenarnya. Misalnya, ada daerah resapan air—disebut ponor, mata air, dan gua yang tidak dicantumkan di amdal PT Semen Indonesia. (Baca: Dua Surat Mbah Rono soal Pabrik Semen di Rembang)

    Penelusuran tim investigasi Majalah Tempo menunjukkan ada dua gua, empat ponor, dan tujuh mata air—disebut “belik” dalam bahasa setempat—di kawasan tapak Semen Indonesia. Eko Teguh Paripurno, ahli geologi asal Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta mendukung temuan Tempo. Begitu pula anggota klub penelusuran gua Acintyacunyata Speleological Club (ASC), Petra Sawacana. “Tak terbantahkan, ada ponor, gua, dan mata air di kawasan penambangan,” kata Eko.  (Baca: Ganjar Pranowo: Gara-gara Investigasi Tempo Saya Dimarahi)

    Berikutnya, dokumen tak lengkap dan pencatutan narasumber


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    UMP 2020 Naik 8,51 Persen, Upah Minimum DKI Jakarta Tertinggi

    Kementerian Ketenagakerjaan mengumumkan kenaikan UMP 2020 sebesar 8,51 persen. Provinsi DKI Jakarta memiliki upah minimum provinsi tertinggi.