Nunun Divonis Penjara 2 Tahun 6 Bulan  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Terdakwa kasus suap cek pelawat pemilihan Deputi Gubernur Senior BI, Nunun Nurbaeti membacakan nota pembelaan atau pledoi dalam sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta Selatan, Senin (30/4). ANTARA/Fanny Octavianus

    Terdakwa kasus suap cek pelawat pemilihan Deputi Gubernur Senior BI, Nunun Nurbaeti membacakan nota pembelaan atau pledoi dalam sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta Selatan, Senin (30/4). ANTARA/Fanny Octavianus

    TEMPO.CO, Jakarta - Terdakwa kasus suap cek pelawat, Nunun Nurbaetie, divonis hukuman penjara 2 tahun 6 bulan. "Majelis hakim menyatakan secara sah terdakwa Nunun Nurbaetie telah terbukti dan sah melakukan tindak pidana korupsi," ujar hakim ketua Sudjatmika di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Kuningan, Jakarta Pusat, 9 Mei 2012.

    Nunun juga didenda Rp 150 juta subsider 3 bulan. Hal ini sesuai dengan pasal yang dikenakan pada Nunun, Pasal 5 Ayat I Huruf B UU No 31 Tahun 1999 juncto UU No 20 Tahun 2002.

    Menanggapi putusan tersebut, Nunun mengaku ingin masih pikir-pikir apakah akan banding atau tidak. Oleh karena itu, majelis hakim memberi waktu untuk berpikir selama tujuh hari.

    Sebelumnya, jaksa penuntut menyebut Nunun Nurbaetie terbukti memerintahkan Arie Malangjudo, bawahannya di PT Wahana Esa Sejati, membagikan cek pelawat ke anggota DPR periode 1999-2004. Cek itu adalah ucapan terima kasih karena Miranda Swaray Goeltom terpilih sebagai DGS BI 2004 dalam uji kepatutan dan kelayakan di Senayan, 8 Juni 2004.

    Sehari sebelum tes DGS BI di Senayan, Nunun memanggil Arie ke ruangannya. Ia meminta Arie agar menyerahkan cek pelawat ke anggota Dewan. Arie sempat mempertanyakan instruksi Nunun, tapi akhirnya menyanggupi. "Lha, masa office boy (yang mengantarkan)? Ini, kan, untuk anggota Dewan," kata Nunun pada Arie saat itu sebagaimana dibacakan jaksa Riyono dalam sidang tuntutan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Senin, 23 April 2012.

    Nunun kemudian menunjuk politikus Partai Golongan Karya Hamka Yandhu yang ada di ruangan yang sama. Menurut Nunun, Hamka lah yang akan mengatur soal pembagian cek pelawat ke sejumlah anggota Dewan. Hamka ketika itu mengatakan soal itu sudah dia atur. Ia bahkan sudah memberi kode warna merah, kuning, hijau, dan putih pada paperbag yang berisi cek pelawat.

    Usai seleksi DGS BI di Senayan, Arie dihubungi oleh kubu Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan yang mengatakan akan mengambil titipan di Restoran Bebek Bali Senayan. Setelah mendapat restu Nunun, seorang OB bernama Ngatiran mengantarkan empat kantong belanja ke ruangan Arie sambil mengatakan, "Ini dari Ibu."

    Arie kemudian menemui politikus PDIP Dudhie Makmun Murod di restoran Bebek Bali Senayan, dan menyerahkan kantong belanja berwarna merah. Setelah itu, ia menuju Hotel Atlet Century Park. Di sana Arie bertemu politikus Partai Persatuan Pembangunan Endin J. Soefihara untuk menyerahkan kantong belanja warna hijau. Kelar bertemu Dudhie dan Endin, Arie kembali ke kantornya di kawasan Menteng.

    Setelah di kantor, Arie menghubungi Udju Djuhaeri dari Fraksi TNI/Polri dan Hamka. Tak berselang lama, Udju datang ke kantor Arie bersama tiga anggota Fraksi TNI/Polri lain untuk mengambil bungkusan warna putih. "Barangkali ada titipan Bu Nunun untuk kami," kata Udju. Adapun Hamka mengambil bungkusan kuning setelahnya.

    ISTMAN MP

    Berita lain:
    Nunun Doa Bersama Sebelum Pembacaan Vonis

    Nunun Merasa Dijadikan Komoditas oleh Media
    Mengaku Bodoh, Nunun Baca Pleidoi Sedikit
    Hari Ini Nunun Diperiksa untuk Tersangka Miranda
    Senyum dan Senandung Nunun di Hari Penuntutan

    Nunun dan Pengacaranya 'Tos' Usai Tuntutan
    Adang Tak Pernah Muncul, Ini Jawaban Nunun

    Keakraban Nun dan Mir


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Korban dan Pelaku Bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan

    Kepolisian menyebut enam orang menjadi korban ledakan bom bunuh diri di Polrestabes Medan. Pelaku pengeboman mengenakan atribut ojek online.