PPKM Diperpanjang, Epidemiolog: Ada Potensi 1 Juta Kasus Covid-19 Tak Terdeteksi

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas medis melakukan tes usap antigen di pusat perbelanjaan Kawasan Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Kamis, 27 Mei 2021. Pasca libur lebaran Forkopimda Kabupaten Bekasi melakukan swab tes antigen kepada 202 pedagang guna mencegah penyebaran COVID-19. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

    Petugas medis melakukan tes usap antigen di pusat perbelanjaan Kawasan Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Kamis, 27 Mei 2021. Pasca libur lebaran Forkopimda Kabupaten Bekasi melakukan swab tes antigen kepada 202 pedagang guna mencegah penyebaran COVID-19. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

    TEMPO.CO, Jakarta - Epidemiolog Griffith University, Dicky Budiman menilai langkah pemerintah memperpanjang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 4 dengan penyesuaian bertahap merupakan langkah tepat. Namun, ia mengingatkan testing, tracing, dan treatment (3T) masih menjadi pekerjaan rumah (PR) besar bagi pemerintah.

    "3T ini masih menjadi PR besar. Hitungan saya, selama PPKM Darurat saja, karena keterbatasan 3T kita, di Jawa-Bali itu potensi kasus (Covid-19) yang tidak terdeteksi sampai 1 juta, baik yang bergejala maupun tidak," ujar Dicky saat dihubungi Tempo pada Selasa, 10 Agustus 2021.

    Dicky menyebut, estimasi tersebut dihitung berbasis angka kematian, dengan asumsi indeks fatality rate 0,5 persen dan juga memperhitungkan angka reproduksi (R) di kisaran 1,1.

    Ia mengingatkan, hal ini tidak bisa dianggap sepele. Selama keberadaan virus tidak terdeteksi, ujar dia, sulit menentukan langkah pengendalian. "Jadi yang harus dilihat sebenarnya 3T ini, bukan vaksinasi.
    Sebab vaksin kan juga belum bisa menjamin terhindar dari penularan dan cakupan vaksinasi di banyak daerah juga belum mencapai 50 persen. Nah, ini yang masih PR besar, banyak sekali kasus yang tidak terdeteksi," tuturnya.

    Koordinator PPKM Jawa-Bali Luhut Binsar Pandjaitan sebelumnya mengklaim, kebijakan PPKM Darurat maupun PPKM Level 4 yang berlaku sejak awal Juli lalu menunjukkan penurunan laju kasus hingga 59,6 persen dari puncak kasus pada 15 Juli 2021 yang lalu.

    Luhut juga mengklaim pelaksanaan testing, tracing, dan treatment membaik. Jumlah spesimen dan orang dites meningkat sangat signifikan hingga tiga kali lipat sejak Mei 2021. "Dari sisi tracing, estimasi jumlah kontak erat yang di-tracing telah mencapai angka 1:6 dari target pemerintah yakni 1:10, keterlibatan dari TNI dan Polri, mampu meningkatkan jumlah kontak erat yang berhasil di-tracing," ujar Luhut dalam konferensi pers daring, Senin, 9 Agustus 2021

    Luhut menuturkan pemerintah bersama TNI, Polri dan lembaga lainnya akan terus berkoordinasi, memantau serta mengejar target tracing sebagai bentuk mitigasi terhadap penyebaran kasus Covid-19 di area Jawa dan Bali.

    DEWI NURITA

    Baca: Sekolah di Wilayah PPKM Level 1-3 Boleh Tatap Muka, Kemendikbud Ingatkan 5 Hal


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.