I Dewa Raka Sandi Gantikan Wahyu Setiawan sebagai Komisioner KPU

Reporter:
Editor:

Kukuh S. Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Komisioner Komisi Pemilihan Umum RI, Wahyu Setiawan, resmi memakai rompi tahanan seusai menjalani pemeriksaan pasca terjaring Operasi Tangkap Tangan KPK, di gedung Komisi Pemberantasan Korupsi, Jakarta, Jumat dinihari, 10 Januari 2020. TEMPO/Imam Sukamto

    Komisioner Komisi Pemilihan Umum RI, Wahyu Setiawan, resmi memakai rompi tahanan seusai menjalani pemeriksaan pasca terjaring Operasi Tangkap Tangan KPK, di gedung Komisi Pemberantasan Korupsi, Jakarta, Jumat dinihari, 10 Januari 2020. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta-Anggota Badan Pengawas Pemilu Provinsi Bali, I Dewa Raka Sandi, akan menggantikan posisi Wahyu Setiawan sebagai Komisioner KPU. Wahyu telah mundur dari jabatannya setelah ditetapkan sebagai tersangka penerima suap dalam perkara penetapan anggota Dewan Perwakilan Rakyat terpilih 2019-2024.

    Pengganti Wahyu tidak dipilih melalui proses fit and proper test di DPR sebagaimana proses pemilihan tujuh komisioner KPU sebelumnya, melainkan otomatis diganti oleh calon komisioner dengan perolehan suara terbanyak berikutnya atau ke-8 dalam proses seleksi 2017.

    "Nomor urut 08 itu I Dewa Raka Sandi. Dulu dia Ketua KPU Provinsi Bali, sekarang dia anggota Bawaslu Provinsi Bali," ujar Ketua KPU, Arief Budiman di kantornya, Jumat, 10 Januari 2020.

    Peringkat pemilihan pimpinan KPU pada 2017 dapat dilihat dari situs rumahpemilu.org. Peringkat ke-8 diduduki oleh I Dewa Kade Wiarsa Raka Sandi, Ketua KPU Provinsi Bali periode 2013-2018 yang memperoleh 21 suara.

    Sedangkan peringkat ke-7 diduduki oleh Arief Budiman dengan perolehan 30 suara. Sedangkan Wahyu Setiawan, saat mengikuti test pimpinan KPU, menempati posisi ke-2 dengan perolehan 55 suara.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.