Demokrat Pasang 3 Syarat Jika Ingin Gabung ke Koalisi Jokowi

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Syarief Hasan, memberikan keterangan kepada awak media susai rapat pleno, di Gedung DPP Partai Demokrat, Jakarta, 6 Maret 2017. Partai Demokrat menyerahkan keputusan untuk memberikan dukungan kepada paslon Ahok-Djarot atau Anies-Sandi yang maju dalam putaran kedua pemilihan gubernur DKI Jakarta 2017 kepada Agus Harimurti Yudhoyono. TEMPO/Imam Sukamto

    Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Syarief Hasan, memberikan keterangan kepada awak media susai rapat pleno, di Gedung DPP Partai Demokrat, Jakarta, 6 Maret 2017. Partai Demokrat menyerahkan keputusan untuk memberikan dukungan kepada paslon Ahok-Djarot atau Anies-Sandi yang maju dalam putaran kedua pemilihan gubernur DKI Jakarta 2017 kepada Agus Harimurti Yudhoyono. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Syarief Hasan mengatakan partai belum menentukan sikap apakah akan bergabung dengan Pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) atau menjadi oposisi.

    "Belum ada. (Sikap partai) ditentukan setelah rapat majelis tinggi partai," ujar Syarief saat dihubungi Tempo pada Selasa, 13 Agustus 2019.

    Sebelumnya, Ketua Divisi Advokasi dan Bantuan Hukum Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean mengatakan partainya bergabung ke koalisi Jokowi. Keputusan ini sudah diambil sejak 40 hari meninggalnya Istri Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Ani Yudhoyono.

    Syarief menegaskan, pernyataan itu hanya pendapat pribadi Ferdinand dan tidak mewakili sikap partai. Menurut politikus senior Demokrat ini, partainya tidak akan ujug-ujug bergabung.

    Ia mengatakan Demokrat memasang tiga syarat jika memang ingin bergabung yaitu faktor kecocokan, kebersamaan, dan faktor kenyamanan. "Jadi tiga itu saja yang menjadi persyaratan kami berkoalisi," ujar dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.