PDIP Minta Menteri, Demokrat Bandingkan dengan Era SBY

Reporter:
Editor:

Jobpie Sugiharto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono  (kiri) berbincang dengan Presiden Ke-5 Megawati Soekarnoputri (kanan) saat menghadiri pemakaman  ibu negara Ani Yudhoyono  di Taman Makam Pahlawan Nasional Utama (TMP) Kalibata, Jakarta, Minggu, 2 Juni 2019. ANTARA

    Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (kiri) berbincang dengan Presiden Ke-5 Megawati Soekarnoputri (kanan) saat menghadiri pemakaman ibu negara Ani Yudhoyono di Taman Makam Pahlawan Nasional Utama (TMP) Kalibata, Jakarta, Minggu, 2 Juni 2019. ANTARA

    TEMPO.CO, Jakarta - Permintaan jatah menteri oleh PDIP kepada Presiden Joko Widodo atau Jokowi dikomentari Ketua Divisi Komunikasi Partai Demokrat Imelda Sari. Dia menyatakan heran sebab di pemerintahan Presiden Joko Widodo atau Jokowi banyak partai yang terang-terangan meminta jatah menteri.

    Menurut dia, hal ini tidak pernah terjadi saat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjabat presiden. "Pada masa pemerintahan SBY, saya harus sampaikan, bahwa tidak ada partai politik yang kemudian meminta secara terbuka seperti itu kepada presiden terpilih. Itu yang saya tahu," katanya dalam diskusi 'Membaca Arah Tusukan Pidato Mega' di Cikini, Jakarta, Sabtu, 10 Agustus 2019.

    Menurut Imelda, pembicaraan terkait jatah menteri di era SBY selalu dilakukan secara tertutup di antara para ketua umum partai politik. Tidak ada yang bicara ke publik meminta jatah sejumlah kursi. Kalau pun yang terbuka dan disampaikan le masyarakat luas adalah saat proses seleksi menteri. "Yang terbuka itu saat fit and proper test."

    Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputrisecara terbuka meminta Presiden Jokowi memberikan jatah menteri paling banyak. Ia juga menolak jika PDIP hanya mendapat empat kursi menteri.

    Tidak hanya dari PDIP, Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa Muhaimin Iskandar juga terang-terangan meminta agar jatah kursi partainya di periode kedua Jokowi lebih banyak dari saat ini. Hal sama diutarakan pula oleh Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh.

    Menurut Imelda, para elite partai politik seharusnya menghormati hak prerogatif presiden terpilih dalam menentukan komposisi kabinetnya. Ia berharap para elite bisa menahan diri terkait pembicaraan kursi eksekutif lantaran pelantikan Jokowi masih lama.

    "Tanggal 20 Oktober juga masih lama, biarlah itu jadi hak perogratif seorang presiden," kata kader Demokrat ini menanggapi permintaan Mega kepada Jokowi dalam Kongres PDIP tadi.

    AHMAD FAIZ


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.