Pelaku Mutilasi di Malang Terancam Hukuman 15 Tahun Penjara

Reporter:
Editor:

Kukuh S. Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Jasad korban mutilasi ditemukan di lantai 3 parkiran Pasar Besar Malang, Rabu, 15 Mei 2019. INSTAGRAM

    Jasad korban mutilasi ditemukan di lantai 3 parkiran Pasar Besar Malang, Rabu, 15 Mei 2019. INSTAGRAM

    TEMPO.CO, Malang-Penyidik Kepolisian Resor Malang Kota menetapkan Sugeng Santoso sebagai tersangka kasus pembunuhan disertai mutilasi di Pasar Besar Kota Malang. Hasil penyelidikan secara mendalam menemukan bukti dan fakta atas pembunuhan yang dilakukan Sugeng.

    Menurut polisi, setelah dibunuh, korban berjenis kelamin perempuan itu akhirnya dimulitasi.  “Berbeda dengan pengakuan tersangka yang menjelaskan korban meninggal sebelum dimutilasi,” kata Kepala Kepolisian Resor Malang Kota Ajun Komisaris Besar Asfuri, Senin, 20 Mei 2019.

    Baca Juga: Polisi Identifikasi Jasad Korban Mutilasi di Pasar Besar Malang

    Menurut Asfuri kronologi pembunuhan keji itu berawal saat korban bertemu tersangka pada 7 Mei 2019. Saat bertemu, korban meminta uang kepada pelaku. Karena Sugeng tak punya uang, korban yang belum diketahui namanya itu hanya diberi makan.

    Selanjutnya tersangka mengajak korban berhubungan intim di gedung lantai dua Pasar Besar. Gedung lantai dua memang kosong dan digunakan Sugeng untuk tidur setiap malam. Namun korban sakit. Sugeng pun meninggalkan korban sendirian.

    Pada 8 Mei 2019 sekitar pukul 01.30 WIB pelaku mendatangi korban. Melihat korban tidur, muncul niat jahat membunuh dengan cara menggorok lehernya. Ceceran darah mengenai kaos dan bertebaran di lantai. Setelah itu Sugeng memutilasi korban dan meninggalkan potongan-potongan tubuhnya di toilet serta di beberapa tempat lainnya.

    Simak Juga: Polisi Tangkap Tersangka Pelaku Mutilasi di Malang

    Atas perbuatannya Sugeng disangkakan pasal 338 KUHP dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara. Pemeriksaan oleh psikiater menyimpulkan pelaku sadar saat melakukan kejahatan. Sugeng dalam kondisi normal dan tidak mengalami gangguan berpikir. Tersangka bisa bercerita kejadian secara detail. “Ada cerita yang ingin ditutupi,” katanya.

    Karena tersangka tidak sedang sakit jiwa, maka polisi  akan dilanjutkan proses hukum kasus mutilasi itu. Adapun identitas korban hingga kini belum diketahui. Polisi menduga korban seorang tunawisma. Untuk mengidentifikasi korban, masih menunggu hasil pengambilan sidik jari.

    EKO WIDIANTO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dampak Screen Time pada Anak dan Cara Mengontrol

    Sekitar 87 persen anak-anak berada di depan layar digital melebihi durasi screen time yang dianjurkan.