Islah PPP, Arsul Sani: Tinggal Humphrey Djemat Datang kepada Kami

Reporter:
Editor:

Kukuh S. Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Fraksi dan Anggota DPR dari Fraksi PPP Hasrul Azwar dan Arsul Sani mendatangi Gedung Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya untuk menjenguk rekannya sesama Fraksi, Fanny Safriansyah alias Ivan Haz, 1 Maret 2016. TEMPO/Destrianita K

    Ketua Fraksi dan Anggota DPR dari Fraksi PPP Hasrul Azwar dan Arsul Sani mendatangi Gedung Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya untuk menjenguk rekannya sesama Fraksi, Fanny Safriansyah alias Ivan Haz, 1 Maret 2016. TEMPO/Destrianita K

    TEMPO.CO, Jakarta-Sekretaris Jenderal Partai Persatuan Pembangunan muktamar Surabaya, Arsul Sani, menerima ajakan islah dari Ketua Umum PPP Muktamar Jakarta, Humphrey Djemat. "Islahnya gampang kok. Tinggal Pak Humphrey datang ke kami," kata Arsul kepada Tempo, Ahad, 17 Maret 2019.

    Arsul mengatakan Triana Dewi Seroja, istri Humphrey, bahkan sudah bergabung bersama PPP Muktamar Surabaya dan bertugas aktif di tim kampanye daerah DKI untuk memenangkan calon presiden inkumben, Joko Widodo. Selain Triana, Arsul mengatakan bahwa Jou Hasyim Waimahing juga sudah sepakat bergabung dengan PPP Muktamar Surabaya.

    Baca: Humphrey Djemat Ingin Bantu PPP agar Tak Terpuruk di Pemilu 2019

    Menurut Arsul PPP dengan senang hati membuka pintu selebar-lebarnya kepada Humphrey. "Jadi mohon disampaikan kepada Pak Humphrey, any time dia bisa kontak saya atau teman-teman DPP lainnya. Kami terbuka kok," ujarnya.

    Humphrey sebelumnya mengatakan bahwa kejadian yang menimpa mantan Ketua Umum PPP Muktamar Surabaya Muhammad Romahurmuziy alias Romy menjadi peringatan agar partai introspeksi diri dan kembali bersatu. "Kejadian musibah ini teguran Allah agar PPP introspeksi dan berakhlak karimah, serta menjauhi perpecahan yang berlangsung cukup lama. Saatnya menyatukan diri," kata Humphrey.

    Romy ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi setelah tertangkap tangan di Hotel Bumi Surabaya, Jumat kemarin. Romy diduga terlibat dalam kasus jual beli jabatan di lingkungan Kementerian Agama baik di pusat maupun daerah.

    Sebelumnya sejak 2014 PPP pecah menjadi dua kubu. Kubu Muktamar Jakarta memilih Djan Faridz sebagai ketua umum. Sedangkan Muktamar Surabaya memenangkan Romy. Namun kubu Romy-lah yang mengantongi surat keputusan dari Menteri Hukum dan HAM.

    Simak: Pengamat Sebut Elektabilitas PPP Terancam Anjlok karena OTT Romy

    Djan Faridz kemudian melayangkan gugatan ke Pengadilan Tata Usaha Negara. Menang hingga tingkat kasasi, Djan akhirnya kalah saat kubu Romy melakukan peninjauan kembali di Mahkamah Agung. Meski begitu perpecahan berlanjut. November lalu Djan memutuskan mundur dari jabatan Ketua Umum PPP muktamar Jakarta dan digantikan Humphrey Djemat.

    Kedua kubu yang ada di PPP ini juga berbeda dukungan politik di pemilihan presiden 2019. Kubu Romy mengusung pasangan Joko Widodo-Ma'ruf Amin, sedangkan PPP Muktamar Jakarta mendukung Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Calon Menteri yang Disodorkan Partai dan Ormas, Ada Nama Prabowo

    Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa sebanyak 45 persen jejeran kursi calon menteri bakal diisi kader partai.