Kunjungi Masjid Niujie Beijing: Gus Dur Pertama, Jokowi yang Kedua

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo memberikan cendera mata berupa songkok dan sarung kepada imam Masjid Niujie, Beijing, Ali Yang Gunjun, 14 April 2017. Dari Imam, Jokowi mendapatkan penjelasan mengenai awal kedatangan muslim Tiongkok yang datang ke Indonesia pada abad ke-15. ANTARA/M. Irfan Ilmie

    Presiden Joko Widodo memberikan cendera mata berupa songkok dan sarung kepada imam Masjid Niujie, Beijing, Ali Yang Gunjun, 14 April 2017. Dari Imam, Jokowi mendapatkan penjelasan mengenai awal kedatangan muslim Tiongkok yang datang ke Indonesia pada abad ke-15. ANTARA/M. Irfan Ilmie

    TEMPO.CO, Beijing - Presiden Joko Widodo (Jokowi) merupakan Kepala Negara kedua RI setelah Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yang mengunjungi Masjid Niujie, Beijing, Cina. Pada tahun 2000, Gus Dur mengunjungi masjid terbesar dan tertua di Beijing itu di sela-sela acara kenegaraannya sebagai presiden.

    "Pak Jokowi sebagai Presiden RI yang kedua yang pernah mengunjungi Masjid Niujie setelah Gus Dur," kata Duta Besar RI untuk Cina, Soegeng Rahardjo, setelah mendampingi Presiden Jokowi mengunjungi Masjid Niujie, Minggu, 14 Mei 2017.

    Baca: Presiden ke Beijing, Juru Bicara Jelaskan Misinya

    Menurut Soegeng Rahardjo, kunjungan Jokowi ke Masjid Niujie di sela-sela menghadiri KTT Kerja Sama Internasional Jalur Sutera dan Sabuk Maritim Baru (Belt and Road Forum) itu tidak hanya untuk mempererat hubungan antara Indonesia dan Cina dalam sektor ekonomi, melainkan juga antarmasyarakat kedua negara, khususnya umat Islam.

    Jokowi salat tahiyyatul masjid di Masjid Niujie Beijing

    "Indonesia sebagai negara mayoritas Muslim di dunia yang toleran, ramah, dan moderat dapat memberikan inspirasi bagi umat Islam di Tiongkok. Jumlah Muslim di sini kurang lebih 25 juta, turut serta membumikan Islam yang rahmatan lil 'alamin dan berperan bagi perdamaian dunia," kata Soegeng.

    Dalam kunjungannya itu, Presiden Jokowi mewakafkan Al-Quran, memberikan kaligrafi surat Al Fatihah dengan tulisan khas Nusantara, dan memberikan cendera mata kepada imam masjid itu berupa songkok dan sarung. "Kehadiran Pak Jokowi juga untuk mendekatkan batin umat Islam Indonesia dan umat Islam di Tiongkok," ujarnya.

    Baca; Mengintip Agenda Presiden Jokowi, Jadwal Padat Mei 2017

    Soegeng menambahkan bahwa Presiden Jokowi menawarkan program kerja sama untuk pendidikan keislamaan dan beasiswa bagi warga Muslim Cina yang ingin belajar di pondok-pondok pesantren yang dikenal berperan besar melahirkan ulama-ulama Nusantara dan berpemahaman Islam rahmatan lil 'alamin.

    Masjid Niujie selain terbesar dan tertua di Beijing juga menjadi simbol masuknya Islam ke daratan Tiongkok. Masjid berarsitektur Tiongkok kuno dengan dominasi warna merah itu dibangun pada tahun 966 M pada masa Dinasti Liao yang berkuasa selama periode 916-1125.

    Jokowi berdoa di Masjid Niujie Beijing

    Nama Nieuji mengacu pada banyaknya restoran halal di kawasan masjid yang menjual daging sapi. Nieujie sendiri artinya jalan sapi yang secara administratif berada di Distrik Xuanwu, Kota Beijing.

    Baca: Jokowi: Muslin Indonesia dan Cina Berhubungan Sejak Abad 15

    Masjid yang mampu menampung 1.000 orang tersebut merupakan pusat komunitas umat Islam di Beijing yang jumlahnya mencapai 250 ribu jiwa. Sepanjang sejarah, Masjid Niujie yang berdiri di atas lahan seluas 10 ribu meter persegi mengalami tiga kali renovasi, yakni pada 1955, 1979, dan 1996.

    Jokowi foto bersama dengan imam Masjid Niujie Beijing

    Masjid Niujie juga dikenal sebagai kampung Muslim karena di sekitar masjid terdapat permukiman yang mampu menampung kurang lebih 18 ribu keluarga Muslim dan memiliki lembaga pendidikan mulai dari sekolah dasar hingga sekolah lanjutan atas. Di Kota Beijing terdapat 70 unit masjid, sedangkan di seluruh daratan Tiongkok sekitar 23 ribu unit masjid.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.