Sebelum Meninggal, Mbah Gotho Masih Ladeni Dua Peneliti dari AS

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kerabat berdoa dalam upacara pemakaman Mbah Gotho di kediamannya di Dusun Segeran, Sragen, Jawa Tengah, 1 Mei 2017. Sebelum meninggal, Mbah Gotho sempat dirawat di RSUD Soehadi Prijonegoro Sragen sejak 12 April 2017 selama 6 hari. Foto: Bram Selo Agung

    Kerabat berdoa dalam upacara pemakaman Mbah Gotho di kediamannya di Dusun Segeran, Sragen, Jawa Tengah, 1 Mei 2017. Sebelum meninggal, Mbah Gotho sempat dirawat di RSUD Soehadi Prijonegoro Sragen sejak 12 April 2017 selama 6 hari. Foto: Bram Selo Agung

    TEMPO.CO, Sragen - Sehari sebelum dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soehadi Prijonegoro Kabupaten Sragen pada 12 April 2017, Sodimejo alias Mbah Gotho masih meladeni dua tamu dari Amerika. Menurut cucu Mbah Gotho dari istri keempat, Suryanto, kedua tamu tersebut bertandang selama tiga hari berturut, 9 - 11 April.

    “Dua bule itu kerjanya (seperti) dokter. Mereka datang untuk mengambil sampel urin, darah, dan sampel dari gigi simbah untuk diteliti di Amerika,” kata Suryanto saat ditemui Tempo di sela upacara pemakaman Mbah Gotho di rumahnya di Dusun Segeran, Desa Cemeng, Kecamatan Sambungmacan, Kabupaten Sragen, pada Senin, 1 Mei 2017.

    Baca: Mbah Gotho, Manusia Tertua di Dunia, Sudah Pesan Nisan Sejak 1992  

    Suryanto mengaku tidak tahu secara detail ihwal latar belakang dua tamu asing tersebut. “Yang saya tahu mereka peneliti bidang manusia purba. Mereka hendak mencari tahu berapa pastinya umur Simbah,” kata Suryanto.

    Selain mengambil sampel untuk penelitian DNA (deoxyribose-nucleic acid), Suryanto mengatakan, dua tamu itu juga mengamati kulit serta retina mata Mbah Gotho. “Dari melihat kulit saja mereka sudah meyakini bahwa Simbah memang manusia tertua di dunia,” ujar Suryanto.

    Saat Mbah Gotho dirawat di rumah sakit pada 12 - 17 April 2017 karena kondisinya melemah lantaran susah makan, dua peneliti asal Amerika Serikat itu mengirim surat elektronik ke alamat email anak perempuan Suryanto, Anisa. “Email itu masuk lewat ponsel Anisa pada 14 April,” kata Suryanto.

    Baca: Doa Umat Islam dan Kristen untuk Arwah Mbah Gotho  

    Karena surat itu ditulis dalam bahasa Inggris, Suryanto meminta dikirim ulang dalam bahasa Indonesia. “Tapi setelah itu malah dikirim terjemahannya dalam bahasa Jawa. Intinya menyatakan Simbah memang manusia tertua, tapi tidak disebutkan tentang umurnya,” kata Suryanto.

    Tempo sempat meminta Suryanto untuk melihat email kiriman peneliti Amerika tersebut. Tetapi Suryanto tidak bisa menunjukkannya saat itu. “Maaf, ponselnya dibawa anak saya,” kata Suryanto di sela kesibukannya menyambut pelayat. Dia menambahkan, hasil dari penelitian itu diperkirakan baru akan keluar sekitar enam pekan mendatang.

    Wakil Bupati Sragen Dedy Endriyatno mengatakan, sebelum Mbah Gotho meninggal, Pemerintah Kabupaten Sragen juga sudah meminta bantuan para akademisi untuk meneliti DNA Mbah Gotho. “Kalau dokumen kependudukan, beliau tidak punya. Tapi kan secara genetik bisa dibaca. Ada tim yang kami datangkan, akademisi dari Bandung atau Jogja. Nanti saya cek lagi,” kata Dedy saat melayat Mbah Gotho.

    Baca: Mbah Gotho, Manusia Tertua di Dunia Asal Sragen, Meninggal

    Dedy juga membenarkan ihwal kabar adanya dua peneliti dari Amerika yang mengambil sejumlah sampel dari Mbah Gotho untuk mencari kepastian usianya. “Penelitian seperti itu kan butuh waktu lama, bisa berbulan-bulan baru keluar hasilnya,” kata Dedy.

    DINDA LEO LISTY


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.