Menteri Khofifah:Jumlah Anak Indonesia Terlibat ISIS Makin Banyak

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa saat menghadiri temu nasional, Alumni Universitas Muslim Indonesia di Makassar, Sulawesi Selatan. TEMPO/Iqbal Lubis

    Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa saat menghadiri temu nasional, Alumni Universitas Muslim Indonesia di Makassar, Sulawesi Selatan. TEMPO/Iqbal Lubis

    TEMPO.CO, Jakarta -  Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa mengatakan dilibatkannya anak-anak Indonesia dalam milisi Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS), semakin mengkhawatirkan. Saat ini, menurut dia,  Kementerian Sosial menerima 129 orang yang dideportasi sejumlah negara. Mereka diduga berusaha bergabung dengan kelompok teror Daesh tersebut.

    "Saya melihat jumlah anak-anak memang cukup signifikan," kata Khofifah saat ditemui di Kepulauan Seribu, Jumat, 24 Maret 2017. Terakhir, kata dia, dua hari lalu sebanyak 12 orang dideportasi dari Turki dan dikirimkan oleh Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror ke Kementerian Sosial.

    Baca: Polri Masih Ragu, Apakah Bachrumsyah Sudah Benar-benar Tewas?  

    Dari 12 orang itu, delapan di antaranya anak-anak. Tiga adalah anak perempuan dan lima anak laki-laki. Empat orang lain, ada wanita yang juga diduga ikut terlibat. Para WNI ini, ditempatkan di Rumah Perlindungan Sosial Anak (RPSA) Bambu Apus, Jakarta Timur.

    Di sana, mereka mendapatkan proses penyembuhan trauma atau healing dan konseling. Apalagi, Khofifah melanjutkan, banyak anak yang mengaku dalam keadaan terguncang. "Rata-rata dari mereka mengalami trauma saat penggerebegan oleh aparat kepolisian di Turki. Itu rupanya masih sering kali mengalami trauma," tutur Khofifah.

    Sebanyak 129 orang yang ditempatkan di Bambu Apus, merupakan WNI yang dideportasi sejak Januari 2017 lalu. Kebanyakan dari mereka dideportasi dari Turki, perbatasan yang dekat dengan Suriah. Namun ada juga yang dideportasi dari negara Jepang, Singapura, dan Mesir.

    Baca: Perbatasan Utara Rentan Penyelundupan Senjata, Terkait Terorisme?

    Khofifah menambahkan, Kemsos masih fokus menjalankan perawatan bersama psikolog dan konselor. Dua lembaga, yakni Densus 88 Anti Teror dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme juga dilibatkan.

    Khofifahmengaku tak mengetahui berapa lama pelayanan ini diberikan pada anak-anak. "Beda treatment. Tergantung keputusan terakhir dari Densus dan BNPT," ucap Khofifah. Meski begitu, ia berjanji akan mengembalikan anak-anak itu kembali ke keluarganya masing-masing.

    EGI ADYATAMA



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Upaya Pemerintah Mengolah Sampah Menjadi Bahan Baku PLTSa

    Pemerintah berupaya mengurangi persoalan sampah dengan cara mengolahnya menjadi energi penggerak PLTSa di duabelas kota di Indonesia.