Jaksa Agung Belum Bisa Pastikan Eksekusi Mary Jane  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mary Jane Fiesta Veloso (31) terpidana mati kasus kurir narkoba menggunakan kebaya berwarna kuning pada acara peringatan hari Kartini di Lapas Wirogunan, Yogyakarta, 23 April 2016. TEMPO/Pius Erlangga

    Mary Jane Fiesta Veloso (31) terpidana mati kasus kurir narkoba menggunakan kebaya berwarna kuning pada acara peringatan hari Kartini di Lapas Wirogunan, Yogyakarta, 23 April 2016. TEMPO/Pius Erlangga

    TEMPO.COJakarta - Jaksa Agung Muhammad Prasetyo belum bisa memastikan kapan eksekusi terhadap terpidana vonis mati Mary Jane Fiesta Veloso bakal dilakukan. Eksekusi tersebut sempat ditunda karena adanya permintaan Filipina untuk mengungkap kasus human trafficking yang melibatkan Mary.

    "Ya, masih ditunggu, kemarin waktu presidennya (Rodrigo Duterter) ke sini juga sempat (kami) tanyakan," kata Prasetyo saat mendatangi Kementerian Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan, Jakarta, Rabu, 28 September 2016.

    Prasetyo menegaskan bahwa pemerintah RI tak mengizinkan Mary ke Filipina untuk menyelesaikan proses peradilan tersebut. Dia menyebutkan otoritas Filipina harus datang ke Indonesia jika membutuhkan kesaksian Mary dalam peradilan kasus human trafficking tersebut.

    "Dia (Mary) tak bisa dibawa ke mana pun. Kalau mau diambil kesaksian, bisa mereka (kejaksaan Filipina) datang kemari, nanti kami dampingi atau lewat teleconference," tuturnya.

    Baca Juga:
    Menteri Yasonna Tolak Mary Jane Diperiksa di Filipina 
    Mary Jane Belum Dieksekusi atas Permintaan Filipina  

    Saat ditanya soal kemungkinan pelaksanaan eksekusi jika peradilan Mary di Filipina telah selesai, Prasetyo menolak berkomentar. "Itu kita lihat nanti. Kami sih harapkan secepatnya (peradilan selesai)."

    Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Yasonna Laoly mengatakan peradilan atas wanita yang ditangkap karena kasus peredaran heroin seberat 5,7 kilogram itu seharusnya bisa cepat selesai. Pasalnya, Indonesia dan Filipina sudah memiliki mutual legal assistance alias kerja sama hukum.

    Laoly menyebutkan tak ada izin bagi Mary untuk pulang kampung. "Kami tidak mengizinkan. Kami minta supaya keterangannya diambil secara tertulis di bawah sumpah di sini (Indonesia) saja," katanya, 13 September lalu.

    Mary, yang divonis mati di Pengadilan Negeri Sleman pada Oktober 2010, sempat muncul dalam daftar nama terpidana eksekusi mati gelombang II dan III. Namun eksekusinya ditunda sampai dua kali. 

    YOHANES PASKALIS

    Baca Juga:
    Begini Cara Dimas Kanjeng Taat Pribadi 'Menggandakan' Uang
    Reza Artamevia Dicecar Soal Dugaan Gatot Hamili Wanita Muda


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rincian Pasal-Pasal yang Diduga Bermasalah di Revisi UU KPK

    Banyak pasal dalam perubahan kedua Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi, atau Revisi UU KPK, yang disahkan DPR, berpotensi melemahkan KPK.