Di Mojokerto, Ada Kambing Kurban Terkena Penyakit Pink Eye  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang SPG memberi makan kambing kurban di Jalan Semarang- Gunungpati, 22 Agustus 2016. Untuk meningkatkan penjualan kambing kurban, penjual menggunakan jasa SPG. TEMPO/Budi Purwanto

    Seorang SPG memberi makan kambing kurban di Jalan Semarang- Gunungpati, 22 Agustus 2016. Untuk meningkatkan penjualan kambing kurban, penjual menggunakan jasa SPG. TEMPO/Budi Purwanto

    TEMPO.COMojokerto - Petugas Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Mojokerto menemukan hewan kurban yang terkena penyakit pink eye atau bermata merah muda. “Dari pemeriksaan hewan kurban di beberapa lokasi penjualan, kami menemukan tiga kambing yang menderita penyakit pink eye,” kata Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Mojokerto Bambang Harjito, Jumat, 9 September 2016.

    Pink eye sering disebut juga penyakit bular mata, radang mata, katarak, atau kelabu mata, yang sering terjadi pada kambing ataupun domba. Penyakit ini sering timbul secara tiba-tiba, terutama pada hewan dalam keadaan lelah. Pink eye dapat disebabkan mikroorganisme patogen, benda asing, trauma, dan perubahan iklim. Faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya infeksi pink eye adalah lalat, debu, kelembapan, musim, kepadatan hewan di dalam kandang, dan kualitas makanan. “Penyakit ini bisa menular ke hewan lain, tapi dagingnya tidak berbahaya jika dikonsumsi manusia,” ujarnya.

    Meski begitu, ia meminta penjual atau peternak mengandangkan kambing atau domba yang sakit itu. “Kami minta tidak dijual dan dikandangkan dulu sampai sehat kembali.” 

    Lokasi yang disasar petugas di antaranya sejumlah lapak pedagang hewan kurban di Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto. Salah satu pedagang yang kambingnya mengidap penyakit pink eye, Fauzin, mengaku kambing yang dijual sebelumnya sehat.

    “Kambing-kambing ini kami bawa dari Jombang tadi malam dan kondisinya sehat, baru terlihat matanya merah ketika sampai di sini,” kata Fauzin. Ia bersedia mengandangkan kambing-kambing sakit itu dan memisahkannya dari kambing lain agar tidak menular ke yang lain.

    Pemeriksaan hewan kurban itu diharapkan bisa menjamin kesehatan dan keamanan hewan kurban yang akan dikonsumsi untuk kebutuhan Idul Adha. “Pemeriksaan ini untuk memastikan apakah hewan sehat dan aman dikonsumsi manusia,” ucapnya.

    Hingga kini, petugas belum menemukan virus berbahaya, seperti antraks, yang bisa menular ke manusia. “Pemeriksaan ini bagian dari kewaspadaan dini pada penyakit hewan menular, seperti antraks, yang bisa menular ke manusia.” 

    Fauzin mengatakan harga kambing kurban tahun ini turun dibanding tahun lalu. Tahun lalu, harganya bervariasi, Rp 1,8-3,3 juta per ekor. “Sekarang turun jadi Rp 1,7-2,8 juta.” 

    ISHOMUDDIN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Imam Nahrawi dan Para Menteri di Pusaran Korupsi

    KPK menetapkan Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi sebagai tersangka. Artinya, dua menteri kabinet Presiden Joko Widodo terjerat kasus korupsi.