Tak Setuju Perpu Jokowi, IDI Tolak Kebiri Pemerkosa

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi dokter/kesehatan. Pixabay.com

    Ilustrasi dokter/kesehatan. Pixabay.com

    TEMPO.CO, Jakarta -  Ketua Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia Ilham Oetama Marsis mengatakan mendukung pemberian hukuman seberat-beratnya kepada pelaku kekerasan seksual. Namun, IDI tidak bisa begitu saja menerima jika ditunjuk sebagai eksekutor hukuman kebiri kimia. "Kami juga tidak menganjurkan tenaga medis lain melakukannya," kata dia di Kantor Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), Jakarta, Kamis, 9 Juni 2016.

    Ketua Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) Pridjo Sidipratomo mengatakan, pihak yang  paling berkompeten untuk memasukkan bahan kimia ke dalam tubuh manusia adalah dokter. Namun tidak pantas jika seorang dokter ditunjuk sebagai eksekutor hukuman kebiri. "Seorang dokter dilarang melakukan suatu yang bersifat penyiksaan terhadap manusia," kata dia.

    Pemberian hukuman kebiri pada pelaku kejahatan seksual pada anak ini ada dalam Perpu Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang sudah ditandatangani Presiden Joko Widodo.

    Di tempat yang sama, Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Andrologi Indonesia (Persandi) Wimpie Pangkahila mengatakan efek anti-testosteron kepada subyek yang menerimanya memiliki reaksi yang berbeda-beda. Sebab, penggunaan zat kimia itu sangat dipengaruhi kesehatan umum, psikis, dan pengalaman seksual subyek itu sendiri.

    Baca: Dokter Pengeksekusi Hukum Kebiri Terancam Langgar Sumpah

    "Misal pengalaman seksualnya bagus pasti akan melekat di pusat seks dalam otak," katanya menjelaskan efek kebiri kimia.  Menurut Wimpie, hormon testosteron berfungsi membangkitkan libido atau gairah seksual. "Setelah diberikan anti-testeron gairah seks akan berkurang," katanya. Namun reaksinya tidak selalu sama. Bisa saja subjek kebiri tetap memiliki dorongan seksual meski sudah mendapat anti-ttestoreron. "Artinya, obat kebiri harus terus diberikan, tidak cukup hanya sekali," ujar dokter spesialis sistem reproduksi pria ini.

    Wimpie mengatakan, setelah wacana hukuman kebiri kepada pelaku pemerkosaan muncul, banyak media massa yang memuat informasi tidak benar. Salah satu stasiun televisi menyebutkan kebiri kimiawi tidak menimbulkan kemandulan. "Itu salah sama sekali," kata Wimpie.

    Pemberian anti-testosteron terus-menerus, kata Wimpie, juga menimbulkan efek samping, seperti otot menghilang, lemak bertambah, osteoporosis (tulang keropos), kognisi terganggu, dan anemia. "Kualitas hidup seseorang akan berkurang, cepat tua, dan cepat mati," ucap dia.

    Baca: Perpu Kebiri Diteken, Mensos: Selesai Semua Diskusi

    Sebuah jurnal internasional, kata Wimpie, pernah menuliskan bahwa anti-testosteron itu seperti kontrasepsi baru bagi pria. Penggunaan antri-testosteron secara rutin selama empat bulan bisa membuat pria tidak lagi memiliki spermatozoa. Namun setelah penggunaan anti-testosteron dihentikan, hormon testosteron kembali normal.

    Kesimpulan itu diperoleh dari sejumlah negara yang telah menerapkan hukum kebiri kimia. Namun tidak ada bukti yang menyebutkan apakah penggunaan anti-testoteron itu memberikan efek jera kepada pelaku pemerkosaan.

    Wimpie mengatakan Anti-testosteron hanya bekerja jika diberikan bertahun-tahun, namun dalam waktu lama bakal muncul efek samping. Efek samping ini tentunya bukan sekadar menghilangkan nafsu seksual. "Saya kira bukan itu tujuan awalnya," ujar dia.

    AKMAL IHSAN | SS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tingkat Kepuasan Kinerja dan Catatan Baik Buruk 5 Tahun Jokowi

    Joko Widodo dilantik menjadi Presiden RI periode 2019 - 2024. Ada catatan penting yang perlu disimak ketika 5 tahun Jokowi memerintah bersama JK.