Ini Hasil Penelitian Cagar Budaya Soal Eks Markas Bung Tomo

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Jalan Mawar nomor 10 Surabaya bekas tempat siaran Radio Pemberontakan Bung Tomo yang sudah dirombak, rata dengan tanah. Senin, 3 Mei 2016. (MOHAMMAD SYARRAFAH)

    Jalan Mawar nomor 10 Surabaya bekas tempat siaran Radio Pemberontakan Bung Tomo yang sudah dirombak, rata dengan tanah. Senin, 3 Mei 2016. (MOHAMMAD SYARRAFAH)

    TEMPO.CO, Surabaya -Tim Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan memastikan bahwa bangunan eks Markas Radio Bung Tomo di Jalan Mawar 10 Surabaya dibangun pada masa kolonial Belanda. “Kami banyak menemukan data di lokasi pada saat observasi,” kata anggota Tim, Widodo kepada Tempo seusai dengar pendapat di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Surabaya, Selasa, 10 Mei 2016.

    Menurut Widodo, data di lapangan menunjukkan bahwa ada dua jenis batu bata yang berbeda yang digunakan untuk bangunan itu. Yaitu batu bata ukuran besar yang lama dan batu bata ukuran kecil yang masih tergolong baru.

    Ukuran batu itu juga berbeda. Untuk ukuran batu bata kecil panjangnya 19 sentimeter, lebarnya 9,5 sentimer dan tebalnya 5 sentimeter. Sedangkan batu bata besar panjangnya 23 sentimeter, lebarnya 11 sentimer dan tebalnya 5,3 sentimeter. Warna kedua batu bata ini juga berbeda sangat mencolok. Batu bata kecil warnanya orange, dan bata besar merah tua.

    Struktur batu bata itu pun berbeda-beda. Batu bata merah tua lebih halus permukaannya dibanding dengan batu bata yang orange. “Ini perbedaan dan data yang pertama.”

    Adapun perbedaan dan data yang kedua adalah cara merekatkan batu bata itu juga berbeda. Batu bata besar direkatkan dengan semen merah, sehingga campurannya semen merah, pasir dan gamping atau kapur. Sedangkan batu bata yang kecil direkatkan dengan semen, pasir dan gamping atau kapur.

    Pemasangan batu bata yang baru dengan yang lama juga berbeda. Hal itu bisa dilihat dari susunan batu bata yang ada di tembok-tembok yang sudah diruntuhkan. “Tembok-tembok itu kan tidak hancur lebur, makanya kami masih bisa tahu cara susunan pemasangan batu bata itu.”

    Perbedaan selanjutnya, kata Widodo, terdapat pada lantai bangunan itu. Ubinnya menggunakan tegel khas kolonial Belanda. Tegel ini sama dengan tegel kolonial Belanda. “Motifnya juga motif pada masa kolonial Belanda.”

    Pondasi rumah itu juga berbeda. Biasanya, bangunan kolonial Belanda itu menggunakan pasir, bukan tanah. Sebagaimana yang digunakan di Stasiun Semut yang dibangun Belanda.

    Berdasarkan data-data itu diketahui bahwa sebaran batu bata kecil itu terkonsentrasi pada bagian rumah depan, tidak sampai belakang. Sedangkan sebaran batu bata besar terkonsentrasi dari bagian tengah hingga belakang rumah. “Kami menyimpulkan bahwa bangunan itu memang pernah direnovasi dari bahan aslinya.”

    Yang direnovasi itu, tambahnya, dari bagian depan hingga tengah, sehingga di bagian depan rumah itu dipastikan sudah diubah. “Jadi, depan berubah, tapi belakang tetap lama.”

    Widodo memastikan jika Pemerintah Kota Surabaya ingin merekonstruksi bangunan itu seperti semula, maka Dinas Kebudayaan dan Pariwisata harus mencari bahan-bahan yang sama dengan hasil penelitian itu. “Bisa saja itu dikembalikan seperti asalnya apabila Pemkot Surabaya bersedia mencari semua bahan bangunan itu sama persis dengan asalnya.”

    MOHAMMAD SYARRAFAH


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menunggu Dobrakan Ahok di Pertamina

    Basuki Tjahaja Purnama akan menempati posisi strategis di Pertamina. Ahok diperkirakan akan menghadapi banyak masalah yang di BUMN itu.