Ketua BPK: Perusahaan di Panama Papers Dijual HK$ 1

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Harry Azhar Aziz menyampaikan Ikhtisar Hasil Pemeriksaan Semester (IHPS) dan Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) semester II/2015 pada Sidang Paripurna Luar Biasa DPD RI di Gedung Nusantara V, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, 13 April 2016. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Harry Azhar Aziz menyampaikan Ikhtisar Hasil Pemeriksaan Semester (IHPS) dan Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) semester II/2015 pada Sidang Paripurna Luar Biasa DPD RI di Gedung Nusantara V, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, 13 April 2016. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.COJakarta - Ketua Badan Pemeriksa Keuangan Harry Azhar Azis mengaku telah menjual perusahaan offshore miliknya, Sheng Yue International Limited. Perusahaan tersebut tercatat dalam dokumen Panama Papers yang menghebohkan dunia belakangan ini. “Saya jual satu dolar Hong Kong,” kata Harry saat konferensi pers di gedung Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak, Jumat, 15 April 2016.

    Harry mengklaim, perusahaan yang ia beli tersebut tidak memiliki aset sama sekali. “Tidak ada asetnya. Boleh dikatakan sebagai one dolar paper company,” ujarnya. Karena selama ini tidak ada transaksi, kata dia, Harry menjualnya kembali seharga HK$ 1. 

    Perusahaannya tersebut, kata dia, hanya semacam terdaftar saja di Hong Kong. Maksud awalnya, Harry dan keluarga hendak berusaha di sana, tapi dia merasa keadaan tidak memungkinkan. 

    BACA:
    Soal Panama Papers, Harry Azhar Azis Klarifikasi Dirjen Pajak
    Terjerat Panama Papers, Menteri Perindustrian Spanyol Mundur

    Harry pernah menjelaskan, perusahaan tersebut awalnya sengaja dibuat untuk anaknya yang sedang sekolah di luar negeri dan kini menikah dengan warga Cile. Perusahaan itu dipersiapkan sebagai “payung” untuk peluang bisnis anaknya di kemudian hari.

    “Jadi bisa dibilang pinjam nama. Itu sebenarnya perusahan standby saja. Nanti kalau ada kegiatan yang cocok dengan perusahaan itu, dipikirkan. Namun nyatanya kan tak ada kegiatan,” ujar Harry.

    Menurut dia, paper company bukan hal baru di negara yang menganut sistem offshore dalam perekonomiannya. Harry pun menegaskan kembali kalau perusahaan itu sudah bukan lagi miliknya dan kini bukan menjadi urusannya. 

    BACA:
    Terseret Panama Papers, Ketua BPK Bisa Terjerat Ini
    Ketua BPK Terjerat Panama Papers, Yunus: Selisik Motifnya

    Dalam Panama Papers terungkap sekitar 15.600 perusahaan papan nama (paper companies) yang dibuatkan bank untuk klien mereka yang ingin keuangan mereka tersembunyi. Dokumen ini diketahui berasal dari sebuah firma hukum kecil tapi amat berpengaruh di Panama yang bernama Mossack Fonseca. Firma ini memiliki kantor cabang di Hong Kong, Zurich, Miami, dan 35 kota lain di seluruh dunia.

    Firma ini merupakan salah satu pembuat perusahaan cangkang (shell companies) terbaik di dunia. Perusahaan cangkang adalah sebuah struktur korporasi yang bisa digunakan untuk menyembunyikan kepemilikan aset perusahaan dan menghindari pajak. Total ada 214.488 nama perusahaan offshore di dokumen yang bocor ini. Ratusan ribu perusahaan itu terhubung dengan orang-orang dari 200 negara.

    Data ini mencakup surat elektronik, tabel keuangan, paspor, dan catatan pendirian perusahaan yang mengungkapkan identitas rahasia dari pemilik akun bank dan perusahaan di 21 wilayah/yurisdiksi offshore, mulai Nevada, Singapura, hingga British Virgin Islands.

    BAGUS PRASETIYO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona COVID-19 Hantam Ekonomi Indonesia pada Maret 2020

    Dampak Virus Korona terhadap perekonomian Indonesia dipengaruhi kondisi global yang makin lesu. Dunia dihantam coronavirus sejak Desember 2019.