Bentrok dengan Kelompok Santoso, Prajurit TNI Gugur

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah personil Brimob berpatroli menyisir wilayah Dusun Gantinadi, Desa Tangkura, Poso, Sulteng, 14 Maret 2015. Kemungkinan masih akan ada beberapa orang lagi yang akan ditahan jika dilihat dari perkembangan penyelidikan. ANTARA/Zainuddin MN

    Sejumlah personil Brimob berpatroli menyisir wilayah Dusun Gantinadi, Desa Tangkura, Poso, Sulteng, 14 Maret 2015. Kemungkinan masih akan ada beberapa orang lagi yang akan ditahan jika dilihat dari perkembangan penyelidikan. ANTARA/Zainuddin MN

    TEMPO.CO, Makassar - Sersan Kepala Zainudin, anggota Batalion Infanteri 712/Wiratama lingkup Komando Daerah Militer VII/Wirabuana, dilaporkan tewas dalam sebuah kontak senjata dengan kelompok tak dikenal di Poso, Sulawesi Tengah, Minggu, 29 November 2015. Diduga kelompok itu masih berhubungan dengan jaringan teroris Santoso.

    Batalion Infanteri 712/Wiratama berada di Poso untuk memburu Santoso dan anak buahnya lewat Operasi Camar Maleo. Kontak senjata itu terjadi sekitar pukul 09.30 Wita. Jenazah Zainudin sudah dievakuasi menggunakan helikopter dan dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Palu, sekitar pukul 16.00 Wita.

    Rencananya, jenazah akan diberangkatkan ke Makassar malam ini. Selanjutnya, jenazah prajurit TNI yang gugur saat bertugas itu akan disemayamkan di rumah duka di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan.

    Kepala Penerangan Kodam VII/Wirabuana Kolonel I Made Sutia membenarkan terjadinya kontak senjata yang melibatkan TNI dalam operasi penumpasan teroris di Poso. Namun, Sutia tidak bersedia memberi keterangan lebih jauh karena kendali operasi berada di tangan Markas Besar TNI dan Polri. "Sebagai Dansatgas adalah Kapolda Sulawesi Tengah. Untuk konfirmasi kejadian silakan di sana saja," kata Sutia.

    Hingga saat ini Tempo belum bisa meminta konfirmasi dari Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah. Namun, pembenaran tewasnya prajurit TNI dalam kontak senjata dengan orang tidak dikenal dalam Operasi Camar Maleo disampaikan juru bicara Polda Sulawesi Selatan dan Barat, Komisaris Besar Frans Barung Mangera.

    "Jenazah berangkatkan menuju ke Makassar, Sulawesi Selatan, menggunakan pesawat. Selanjutnya, akan dibawa untuk disemayamkan di rumah duka di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan," ucap Barung.

    TRI YARI KURNIAWAN

    Baca  juga:
    Kerlip Lampu Hijau di Bulan, Tanda Ada Kehidupan UFO? 
    Kasus Novanto: Mahkamah Rapat Hari Ini, Masih Ada Bola Liar?


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.