Pendidikan Seksual Penting Bagi Perempuan Disabilitas  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah siswa tuna netra Wyata Guna, saat berjalan di sekitar kawasan Pajajaran. Para siswa berlatih untuk berjalan di sekitar trotoar. Cara ini ditempuh karena sangat minimnya trotoar kota yang ramah bagi penyandang disabilitas. Bandung, 9 September 2015. TEMPO/Prima Mulia

    Sejumlah siswa tuna netra Wyata Guna, saat berjalan di sekitar kawasan Pajajaran. Para siswa berlatih untuk berjalan di sekitar trotoar. Cara ini ditempuh karena sangat minimnya trotoar kota yang ramah bagi penyandang disabilitas. Bandung, 9 September 2015. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.CO, Bengkulu - Perempuan penyandang disabilitas harus mendapat pendidikan seksual karena mereka rentan menjadi objek pelecehan seksual.

    "Tidak ada pendidikan seksual maka akan menjadi bencana bagi mereka," kata Presidium Nasional Koalisi Perempuan Indonesia (KPI), Maulani Rotinsulu dalam acara Dialog Publik Negara dan Jaminan Perlindungan Buat Disabilitas, di Bengkulu, pada Kamis, 5 November 2015.

    Maulani mencontohkan penyandang tuna netra, memiliki persepsi untuk tubuh sendiri tapi tidak dengan tubuh orang di luar dirinya. Karena itu, jika dari keluarga tidak memberikan pendidikan seksual, mereka tidak bisa membedakan antara sentuhan biasa dan sentuhan seksual.

    Bukan hanya itu, perempuan penyandang disabilitas katanya mengalami multidiskriminasi, persoalan sosial, politik, ekonomi, dan budaya di tengah masyarakat.

    "Undang-undang perkawinan saja berlaku tidak adil terhadap perempuan penyandang disabilitas, dengan pasalnya yang memperbolehkan perempuan disabilitas diceraikan atau dipoligami," tutur Maulani.

    Di sinilah fungsi negara wajib hadir, katanya, salah satunya melalui regulasi yang memperkuat implementasi keadilan dan perlindungan hukum bagi mereka dalam RUU Penyandang Disabilitas.

    Sekretaris Wilayah KPI Provinsi Bengkulu Irna Riza Yuliastuti mengatakan, tujuan dialog ini untuk membuka ruang komunikasi antara legislator, pemerintah, KPI, dan penyandang disabilitas.

    Menurutnya, dialog ini membuka aksi solidaritas perempuan khususnya perlindungan bagi penyandang disabilitas. Dia berharap pemerintah dan legislator memahami persoalan kelompok kepentingan yang selama ini kurang mendapatkan perhatian tersebut.

    PHESI ESTER JULIKAWATI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.