Ada Kabut Asap, Burung Raptor Alami Disorientasi Bermigrasi  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dua ekor Sikep Madu Asia terlihat di angkasa hutan Gunung Slamet, Sabtu (27/10). TEMPO/Aris Andrianto

    Dua ekor Sikep Madu Asia terlihat di angkasa hutan Gunung Slamet, Sabtu (27/10). TEMPO/Aris Andrianto

    TEMPO.CO, Jakarta - Migrasi burung pemangsa atau raptor dari belahan bumi utara terganggu akibat kebakaran hutan. Burung raptor mengalami disorientasi karena kabut asap. "Terganggu saat melintasi udara Indonesia," kata Ketua ProFauna, Rosek Nursahid, pada Rabu, 4 November 2015.

    Biasanya, puncak migrasi terjadi pada Oktober. Namun, sampai akhir Oktober tak banyak terlihat migrasi burung raptor melintas di Malang. Pengamatan ProFauna melihat pergerakan burung raptor terjadi sejak sepekan terakhir di Gunung Banyak, Batu. Menyusul semakin berkurangnya kabut asap.

    "Kemarin terpantau 70-100 ekor," ujarnya. Burung raptor migrasi dari daerah dingin ke kawasan yang lebih hangat. Selain iklim, migrasi ini juga dipengaruhi oleh cadangan makanan yang menipis. "Kawasan belahan utara mulai musim dingin, elang sulit cari makan," katanya.

    Rombongan elang bermigrasi ke dataran yang lebih hangat dan kaya makanan. Kawasan di Indonesia memiliki ragam makanan berupa aneka jenis serangga, tikus, dan ular.

    Elang yang bermigrasi antara lain Sikep Madu Asia (Prenis ptylorhynchus), Elang Alap Nipon (Accipitor gularis), dan Elang Alap Cina (Accipitor soloensis). Pengamatannya, setiap burung raptor terbang berkelompok.

    Burung sikep madu terbang berkelompok antara 2-5 ekor. Selain memakan tikus, kodok, aneka serangga, dan burung kecil, sikep madu juga memakan sarang lebah.

    Sementara itu, elang nipon terbang berkelompok maksimal tujuh ekor. Selama bermigrasi tak ada konflik antara raptor dari Asia Utara dan raptor endemis Indonesia. Lantaran, burung tersebut saling menjaga daerah teritorial masing-masing elang.

    "Elang asli Indonesia kadang berpatroli untuk menegaskan daerah teritorialnya," katanya. Selain itu, burung raptor yang bermigrasi terbang berkelompok sehingga raptor asli Indonesia memastikan tak berkonflik, seperti berebut pakan atau menetap di daerah yang menjadi habitat elang endemis Indonesia.

    Pengamat elang dari ProFauna Indonesia Made Astuti menjelaskan, setiap migrasi total sebanyak 20 jenis antara lain Baza Jerdon (Aviceda jerdoni), Baza hitam (Aviceda leuphotes), Elang Paria (Milvus migrans), dan Elang ular jari pendek (Circaetus gallicus).

    Rute migrasi dari Cina melintasi Thailand-Malaysia-Singapura-Kepulauan Riau-Palembang-Lampung-Jawa hingga ke Nusa Tenggara Timur.

    Burung raptor tersebut akan menetap selama lima bulan dan kembali ke habitat asal. Rute perjalanan migrasi tak berubah, kecuali jika terjadi gangguan alam.

    Seperti kebakaran hutan di Riau, jalur migrasi elang berubah untuk menghindari asap. Elang dari Jepang melintasi rute migrasi Taiwan-Filipina-Kalimantan.

    Selama bermigrasi, elang juga beristirahat di kawasan pegunungan yang kaya makanan dan teduh. Migrasi rombongan elang ini juga bermanfaat bagi keseimbangan alam. Salah satunya adalah berjasa mengendalikan hama seperti tikus sawah. "Elang memangsa tikus yang menjadi hawa tanaman," kata Made.

    Elang terbang melayang dengan memanfaatkan energi panas bumi atau geotermal. Karena itu, pengamatan bisa dilakukan mulai pukul 09.00 WIB sampai tengah hari. Namun, jika mendung sulit untuk mengamati elang karena elang terbang menggunakan energi panas bumi.

    EKO WIDIANTO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.