Hati-hati, Ini Dampak Kabut Asap bagi Kesehatan Manusia

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Jamaah calon haji menggunakan masker saat menunggu kepastian keberangkatan ke Embarkasi Batam, di Kota Pekanbaru, Riau, 2 September 2015. Keberangkatan jamaah calon haji Riau beberapa kali mengalami keterlambatan akibat kabut asap kebakaran lahan dan hutan sehingga mengganggu aktivitas penerbangan di Bandara Sultan Syarif II Pekanbaru. ANTARA/FB Anggoro

    Jamaah calon haji menggunakan masker saat menunggu kepastian keberangkatan ke Embarkasi Batam, di Kota Pekanbaru, Riau, 2 September 2015. Keberangkatan jamaah calon haji Riau beberapa kali mengalami keterlambatan akibat kabut asap kebakaran lahan dan hutan sehingga mengganggu aktivitas penerbangan di Bandara Sultan Syarif II Pekanbaru. ANTARA/FB Anggoro

    TEMPO.CO, Jakarta - Kabut asap yang menyeruak di Sumatera dan Kalimantan sangat berbahaya bagi kesehatan manusia. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan Tjandra Yoga Aditama mengungkapkan sedikitnya ada lima dampak langsung dan tak langsung bagi tubuh akibat paparan kabut asap terus-menerus.

    "Pada kondisi kesehatan tertentu, orang menjadi lebih mudah mengalami gangguan kesehatan akibat kabut asap dibandingkan orang lain, khususnya orang dengan gangguan paru dan jantung, lansia, dan anak-anak," kata Tjandra dalam keterangan tertulis, Ahad, 6 September 2015. Pernyataan itu disampaikannya menyikapi bencana kabut asap akibat kebakaran hutan di sejumlah daerah, seperti Jambi dan Riau.

    Seseorang dapat mengalami sesak napas dan infeksi paru jika selalu terpapar kabut asap secara langsung dan dalam jangka waktu lama. Tjandra mengatakan asap tersebut dapat menyebabkan iritasi lokal pada selaput lendir di hidung, mulut, dan tenggorokan. Tak hanya itu, asap kebakaran hutan juga menyebabkan reaksi alergi, peradangan, dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) hingga pneumonia.

    ISPA mudah menyerang ketika daya tahan tubuh manusia melemah, pola bakteri, dan lingkungan yang buruk, seperti adanya paparan kabut asap. "Kemampuan paru dan saluran pernapasan mengatasi infeksi juga berkurang, sehingga menyebabkan lebih mudah terjadi infeksi," ujar Tjandra.

    Tjandra mengatakan asap akibat kebakaran hutan juga akan memperburuk asma dan penyakit paru lain, seperti bronkhitis kronik dan penyakit paru obstruktif kronis. Penyakit ini ditandai dengan hambatan aliran udara di saluran napas karena respons paru terhadap gas beracun. Selain gangguan pernapasan, kabut asap juga menyebabkan iritasi pada mata dan kulit. Mata yang terkontaminasi asap akan menjadi gatal, berair, dan menimbulkan peradangan.

    Secara tidak langsung, polutan asap juga akan mencemari air dan makanan. Jika air dan makanan itu dikonsumsi masyarakat, akan menimbulkan gangguan saluran cerna seperti diare. Asap juga mampu menimbulkan stres pada manusia dan menurunkan daya tahan tubuh.

    Dinas Kesehatan Riau menyebutkan, hingga kini, sebanyak 9.386 orang terjangkit penyakit akibat paparan asap. Adapun jumlah pasien penderita saluran pernapasan atas (ISPA) sebanyak 7.312 orang, asma 296 orang, pneumonia 290 orang, iritasi mata 485 orang, dan iritasi kulit 903 orang.

    PUTRI ADITYOWATI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tingkat Kepuasan Kinerja dan Catatan Baik Buruk 5 Tahun Jokowi

    Joko Widodo dilantik menjadi Presiden RI periode 2019 - 2024. Ada catatan penting yang perlu disimak ketika 5 tahun Jokowi memerintah bersama JK.