Rabu, 14 November 2018

Jelang Pemeriksaan KPK, Bos Parna Raya Masuk UGD  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mantan Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Rudi Rubiandini. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Mantan Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Rudi Rubiandini. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Jakarta - Bos Parna Raya Group, Artha Meris Simbolon, masuk rumah sakit menjelang pemeriksaannya sebagai saksi atas tersangka Rudi Rubiandini dan Deviardi pada Senin, 11 November 2013. Rudi dan Deviardi merupakan tersangka kasus suap Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi.

    Artha Meris mengalami muntah-muntah dan demam ketika akan berangkat menuju gedung KPK. "Masuk unit gawat darurat di Rumah Sakit Mitra Keluarga," kata Andika Yoedistira, pengacara Artha Meris, saat ditelepon Tempo, Rabu, 13 November 2013. Karena harus dirawat inap selama dua hari, pemeriksaan yang kedua itu ditunda. Pemeriksaan dilanjutkan pada Rabu hari ini.

    Perempuan berambut panjang ini datang ke gedung KPK mengenakan atasan lengan panjang berwarna krem dan celana panjang hitam. Didampingi dua petugas keamanan, pemilik setengah saham Hotel Sari Pan Pacific, Jakarta Pusat, ini terus berjalan memasuki lobi gedung KPK tanpa menjawab pertanyaan para wartawan.  

    Artha Meris diduga menyuap Rudi melalui Deviardi. Dokumen yang diterima Tempo menyebutkan adanya aliran dana sekitar US$ 500 ribu yang diberikan dalam empat tahapan selama Januari hingga Agustus dari Artha Meris kepada Deviardi. Deviardi menerima uang itu atas perintah Rudi Rubiandini.

    Uang tersebut diduga untuk memuluskan rencana Artha Meris meminta penurunan harga gas yang dialokasikan bagi PT Kaltim Parna Industri (KPI), perusahaan amoniak milik Parna Raya Group. Artha Meris mengakui sedang memohon penurunan harga gas untuk PT KPI. Alasannya, PT KPI diperlakukan tidak adil sehingga sulit bersaing dengan harga gas US$ 12-14 per mmbtu. Adapun kompetitornya, PT Kaltim Pasifik Amoniak (KPA), hanya US$ 5,8-6 per mmbtu. "Bagaimana kami bisa bersaing, sudah enam bulan pabrik kami berhenti," kata Artha Meris kepada Tempo, Jumat, 27 September 2013.

    Andika Yoedistira membantah adanya aliran dana itu. Menurut dia, permintaan penurunan harga gas untuk PT KPI ditujukan kepada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. "Tidak ada kaitannya dengan SKK Migas," katanya.

    AKBAR TRI KURNIAWAN  |  BERNADETTE CHRISTINA MUNTHE


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lion Air JT - 610, Kecelakaan Pesawat Nomor 100 di Indonesia

    Jatuhnya Lion Air nomor registrasi PK - LQP rute penerbangan JT - 610 merupakan kecelakaan pesawat ke-100 di Indonesia. Bagaimana dengan di dunia?