Minggu, 25 Februari 2018

Ada Kantor OPM di Oxford, Dubes Inggris Dipanggil

Oleh :

Tempo.co

Sabtu, 4 Mei 2013 18:49 WIB
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ada Kantor OPM di Oxford, Dubes Inggris Dipanggil

    Tentara Pertahanan Nasional Organisasi Papua Merdeka (OPM) Devisi II Makodam Pemkab IV Paniai. TEMPO/Jerry Omona

    TEMPO.CO, Jakarta - Juru Bicara Kepresidenan Julian Aldrin Pasha menyatakan pemerintah Indonesia bakal segera memanggil Duta Besar Inggris untuk Indonesia terkait dengan pembukaan kantor Organisasi Papua Merdeka di Oxford, Inggris. Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa pun sudah melaporkan permasalahan ini langsung pada Presiden SBY.

    “Sejauh ini Kementerian Luar Negeri belum pernah menerima dukungan resmi dari pemerintah Inggris soal kantor perwakilan OPM. Inggris tetap pada sikapnya yang tidak mendukung gerakan separatis di Indonesia,” kata Julian kepada Tempo, Sabtu, 4 Maret 2013.

    “Pemerintah akan memanggil Dubes Inggris untuk Indonesia agar bisa memberikan penjelasan terkait masalah kantor OPM,” ujar Julian. Meskipun pemerintah Inggris menyatakan tidak mendukung OPM, Indonesia merasa perlu untuk mendengarkan sikap resmi dari negara kerajaan itu. “Kami belum tahu sikap resmi mereka.”

    Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Michael Tenne menyatakan Duta Besar Indonesia untuk Inggris juga sudah menyampaikan perhatian Indonesia pada pemerintahan Inggris soal masalah OPM. “Pemerintah Inggris tetap menyampaikan kalau mereka tidak mendukung separatisme dan mendukung kedaulatan Indonesia,” ujar Tenne.

    Kementerian Luar Negeri pun mengaku sudah memantau kegiatan OPM di Inggris sejak lama. “Kami tidak pernah lengah dan selalu memantau mereka. OPM memang memiliki basis kegiatan di Oxford, dan belakangan sengaja membuka kantor untuk kumpul-kumpul anggota mereka,” ujar Tenne.

    Sebelumnya, Organisasi Papua Merdeka resmi membuka kantor di Oxford Inggris. Pembukaan kantor itu dihadiri oleh anggota parlemen Inggris Andrew Smith, Walikota Oxford Moh Niaz Abbasi, mantan Walikota Oxford Elise Benjamin dan koordinator Free West Papua Campaign (FWPC) Benny Wenda.

    Hadir pula pemain rugby nasional Papua New Guinea Paul Aiton, Jennifer Robinson dan Charles Foster dari kelompok pengacara internasional untuk Papua Barat, mahasiswa Universitas Oxford, warga Papua di Belanda dan pendukung Papua Merdeka di Inggris.

    SUBKHAN


    Susno Duadji
    | Ustad Jefry | Caleg | Ujian Nasional

    Berita Lain:
    Ayu Azhari Lega Fathanah Tidak ke Restorannya

    Raul Ingin Ronaldo Bertahan di Madrid

    Pendukung Fatin Shidqia Mirip Supporter Bola

    Ayu Azhari: Fathanah Lebih Suka Daging Kambing


     

     

    Selengkapnya
    Grafis

    Billy Graham, Pendeta Penasehat Presiden Amerika Serikat, Wafat

    Billy Graham, pendeta paling berpengaruh dan penasehat sejumlah presiden AS, wafat di rumahnya dalam usia 99 tahun pada 21 Februari 2018.