Perludem Jelaskan Potensi Irisan Jadwal Pemilu dan Pilkada 2024

Reporter

Warga menunjukan surat suara sat akan mencoblos di bilik suara pemilihan Bupati/Wakil Bupati Bandung saat simulasi Pilkada ditengah pandemi Covid-19 di TPS RT 01 RW 08, Desa Mekarsari, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, 21 November 2020. Simulasi diadakan di Baleendah yang merupakan zona merah penularan Covid-19 dan zona bencana banjir. TEMPO/Prima Mulia

TEMPO.CO, Jakarta - Anggota Dewan Pembina Perludem Titi Anggraini menyebut akan terjadi irisan tahapan pemilu anggota legislatif, pemilu presiden, dan kepala daerah bila pemungutan suara Pileg dan Pilpres digelar pada April 2024.

"Meski pemungutan suara pilkada pada November 2024 tidak berbarengan dengan pemungutan suara pemilu anggota legislatif (pileg) dan pilpres," kata Titi Anggraini mengutip Antara, Selasa, 9 Februari 2021.

Ia menjelaskan pada saat penghitungan dan rekap suara Pileg/Pilpres (April-Mei 2024) beririsan waktu dengan pembentukan panitia pemungutan suara (PPS) pilkada, pemutakhiran data pemilih, penyerahan dukungan, dan penelitian administrasi pencalonan perseorangan.

Menurut Titi, beban berat tidak hanya bagi penyelenggara, tetapi juga pada peserta (partai politik dan perseorangan) dan pemilih.

Di sisi lain, desain penjadwalan pilkada dan pemilu tidak sejalan dengan desain kelembagaan penyelenggara pemilu. Masalahnya ialah pelaksanaan pilkada dan pemilu pada tahun yang sama hanya ada satu kali aktivitas aktif kepemiluan. Namun, kelembagaan penyelenggara pemilu permanen sampai kabupaten/kota selama 5 tahun. Padahal, penyelenggara pemilu ini ada untuk menyelenggarakan pemilu.

"Kalau tidak ada aktivitas yang relevan dan signifikan, apakah masih diperlukan sifat lembaga yang permanen? Hal ini justru membebani keuangan negara dan tidak sejalan dengan asas pemilu efektif dan efisien," tutur Titi.

Ia mencontohkan pada Pemilu 2019 terdapat lima kotak pemilihan, yakni presiden/wakil presiden, DPR, DPD, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota. Rerata beban kerja petugas kelompok penyelenggara pemungutan suara (KPPS) sangat tinggi sebelum, selama, dan sesudah hari-H pemilihan. Selain itu ditambah dengan adanya kendala bimtek, logistik, dan kesehatan berkontribusi pada kelelahan petugas yang berakibat kematian.

Ia menyebutkan hasil analisis Fisipol UGM pada Juni 2019 tentang median beban kerja petugas pemilu berkisar antara 20-22 jam pada hari-H pelaksanaan pemilu. Berikutnya 7,5-11 jam untuk mempersiapkan tempat pemungutan suara (TPS). Lalu 8-48 jam untuk mempersiapkan dan mendistribusikan undangan.

Akibat dominasi Pilpres, lanjut Titi, membuat pemilu anggota legislatif tidak mendapatkan perhatian yang sepadan dari pemilih, khususnya pemilu Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dan DPRD. "Isu lokal tenggelam oleh isu nasional dalam penjangkauan pemilih dan diskursus kepemiluan," kata Titi.

Selain itu, meningkatnya suara tidak sah (invalid votes), terutama pemilu DPD, DPR, dan DPRD karena pemilih yang kebingungan akibat kompleksitas pemilihan yang berjalan. Hal lain, sosialisasi dan pendidikan kepemiluan tidak optimal karena isu yang terlalu banyak dan berkelindan satu sama lain. Pemilih pun kebingungan akhirnya perhatian terfokus pada pilpres.

Ia menilai pada Pemilu 2019 terjadi penurunan kualitas dan mutu profesionalisme, kinerja, dan performa penyelenggara pemilu. Di samping itu, logistik pemungutan suara tidak tersedia tepat waktu, tepat jenis, tepat jumlah, dan tepat lokasi. "Hal inilah yang menyebabkan meningkatnya jumlah kasus surat suara tertukar, kekurangan surat suara, dan lain-lain," ujar Titi.

Baca juga: Banyak Petugas KPPS Meninggal Jadi Alasan Penolakan Pilkada 2024






Anggota DPR Minta Perpu Pemilu Fokus Akomodasi 3 DOB Papua

7 jam lalu

Anggota DPR Minta Perpu Pemilu Fokus Akomodasi 3 DOB Papua

Draf Perpu sudah dibicarakan dengan KPU, Bawaslu, DKPP, dan Komisi II. Tito menargetkan Perpu Pemilu rampung paling lambat pada Desember.


KBRI Gunakan Aplikasi untuk Data WNI di Malaysia

3 hari lalu

KBRI Gunakan Aplikasi untuk Data WNI di Malaysia

KBRI di Kuala Lumpur mulai menggunakan aplikasi KBRIKL APP untuk mendata jumlah dan keberadaan warga negara Indonesia di Malaysia.


Relawan Ubah Deklarasi Moeldoko Lebih Sederhana, Prioritaskan Bantu Korban Gempa Cianjur

3 hari lalu

Relawan Ubah Deklarasi Moeldoko Lebih Sederhana, Prioritaskan Bantu Korban Gempa Cianjur

Relawan mengubah agenda deklarasi Moeldoko menjadi lebih sederhana dan berfokus pada aksi kemanusiaan korban gempa Cianjur


Miliki Perdana Menteri Baru, Bagaimana Sistem Pemerintahan di Malaysia?

5 hari lalu

Miliki Perdana Menteri Baru, Bagaimana Sistem Pemerintahan di Malaysia?

Malaysia memiliki sistem pemerintahan yang unik, di mana raja yang akan memerintah dipilih setiap lima tahun sekali.


Bolsonaro Gugat Kemenangan Lula dalam Pilpres Brasil

7 hari lalu

Bolsonaro Gugat Kemenangan Lula dalam Pilpres Brasil

air Bolsonaro menggugat kemenangan rivalnya, Luiz Inacio Lula da Silva, dalam pemilihan presiden Brasil bulan lalu.


Fitch Solutions Sebut Investor Bakal Menjauh Sampai Politik di Malaysia Stabil

8 hari lalu

Fitch Solutions Sebut Investor Bakal Menjauh Sampai Politik di Malaysia Stabil

Fitch Solutions memperingatkan instabilitas politik dapat berpengaruh pada sektor investasi di Malaysia, di mana investor bakal bersikap menunggu.


Pemilu Malaysia, Muhyiddin Yassin dan Anwar Ibrahim Galang Dukungan

9 hari lalu

Pemilu Malaysia, Muhyiddin Yassin dan Anwar Ibrahim Galang Dukungan

Muhyiddin Yassin dan Anwar Ibrahim bersaing menggalang banyak dukungan untuk membentuk pemerintahan setelah ketidakpastian hasil pemilu Malaysia.


Di Depan Jokowi, Plt Ketua Umum HIPMI Tanya Kemungkinan Penundaan Pemilu 2024

9 hari lalu

Di Depan Jokowi, Plt Ketua Umum HIPMI Tanya Kemungkinan Penundaan Pemilu 2024

Plt Ketua Umum HIPMI Eka Sastra mempertanyakan kemungkinan penundaan pemilu 2024 di depan Presiden Jokowi


Muhaimin Iskandar Sebut Sistem Pemilu Rusak karena Politik Uang di Pilkada

9 hari lalu

Muhaimin Iskandar Sebut Sistem Pemilu Rusak karena Politik Uang di Pilkada

Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar menyebut money politics dalam Pilkada membuat mekanisme Pemilu rusak.


Perludem: Sistem Pemilu di Indonesia Merupakan Anomali Akibat Pragmatisme Elite

9 hari lalu

Perludem: Sistem Pemilu di Indonesia Merupakan Anomali Akibat Pragmatisme Elite

Perludem mengatakan, di tengah fenomena sistem pemerintahan presidensial ini, presiden tersandera oleh kekuatan parlemen yang menyebar.