Riset LSI Denny JA: Publik Cemas Ancaman Ekonomi Ketimbang Virus

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas dengan menggunakan pelindung wajah (face shield) melayani calon penumpang di Stasiun pasar Senen, Jakarta, Jumat 12 Juni 2020. PT KAI Daop 1 Jakarta melakukan adaptasi persiapan pelaksanaan prosedur tetap masa adaptasi kebiasaan baru antara lain dengan penggunaan masker, pelindung wajah, pemeriksaan suhu tubuh dan jaga jarak di tengah masa pandemi guna pencegahan penyebaran COVID-19. ANTARA FOTO/Nova Wahyudi

    Petugas dengan menggunakan pelindung wajah (face shield) melayani calon penumpang di Stasiun pasar Senen, Jakarta, Jumat 12 Juni 2020. PT KAI Daop 1 Jakarta melakukan adaptasi persiapan pelaksanaan prosedur tetap masa adaptasi kebiasaan baru antara lain dengan penggunaan masker, pelindung wajah, pemeriksaan suhu tubuh dan jaga jarak di tengah masa pandemi guna pencegahan penyebaran COVID-19. ANTARA FOTO/Nova Wahyudi

    TEMPO.CO, Jakarta - LSI Denny JA melakukan riset terkait tingkat kecemasan masyarakat di tengah Pandemi Covid-19. Hasilnya, dari riset kualitatif tersebut, ditemukan bahwa masyarakat cenderung lebih khawatir pada kondisi perekonomian mereka, ketimbang terpapar virus.

    "Melalui analisa statistik, responden lebih takut ancaman kesulitan ekonomi dibandingkan terpapar Virus Corona," ujar peneliti LSI Denny JA, Rully Akbar, dalam teleconfernce, 12 Juni 2020.

    Rully mengatakan total ada 240 mahasiswa yang menjadi responden. Mereka kemudian dibagi menjadi delapan kelompok. Setiap kelompok diberi satu jenis treatment.

    Ragam treatment dibedakan antara informasi tinggi rendahnya ancaman. Yaitu ancaman kesehatan (kematian hingga terpapar virus yang bisa disembuhkan), versus ancaman ekonomi (kelaparan dan kehilangan pekerjaan hingga bisa mencari penghasilan lain).

    Treatment juga dibedakan antara kemampuan individu, mulai dari mampu menangkal ancaman kesehatan dan ekonomi versus tak mampu menangkal.

    "Ini bukan survei opini publik tapi riset eksperimental untuk menggali lebih detail kekhawatiran responden," kata Rully.

    Sejak status pandemi ditetapkan WHO pada Maret 2020, Rully mengatakan banyak sektor di bidang ekonomi yang mati dan pegawai terkena PHK karena perusahaan tak sanggup menanggung gaji. Dua bulan setelah pandemi muncul banyak negara mengalami perlambatan ekonomi.

    "Tak ada pergerakan roda ekonomi. Ketika mereka yang punya pekerjaan, pendapatannya tak ada lagi, tabungan investasi berkurang, publik akhirnya muncul kecemasan baru di luar kecemasan kesehatan," kata Rully.

    Hasil dari riset ini, kata Rully, juga diperkuat dari temuan data dari VoxPopuli Center, lembaga opini publik Indonesia. Pada 26 Mei-1 Juni 2020, lembaga ini melakukan survei telefon atas 1.200 responden Indonesia yang dipilih secara acak.

    "Hasilnya 25.3 persen publik khawatir terpapar oleh Virus Corona. Namun lebih besar lagi, sekitar 67,4 persen publik khawatir akan kesulitan ekonomi atau bahkan kelaparan," kata dia.

    Selain itu, Rully menyebut tren ini juga terjadi di Amerika. Survei dari Gallup Poll menyebut terjadi pergeseran kecemasan pada periode awal April 2020, hingga pada awal Mei 2020.

    Pada 6-12 April 2020, kecemasan atas virus Corona berada di angka 57 persen. Sementara kecemasan atas kesulitan ekonomi berada di angka 49 persen. Namun pada 11-17 Mei 2020, angka kecemasan itu sudah bergeser. Kecemasan publik atas Virus Corona menurun ke angka 51 persen. Sementara kecemasan atas kesulitan ekonomi menanjak melampaui kecemasan atas virus di angka 53 persen.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pilkada 2020 Prioritaskan Keselamatan dan Kesehatan

    Komisi Pemilihan Umum siap menggelar Pemilihan Kepada Daerah Serentak di 9 Desember 2020. KPU prioritaskan keselamatan masyarakat dalam Pilkada 2020.