Kapolda Jawa Barat Sebut Bakal Terus Kejar Jaringan Teroris JAD

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kapolda Jawa Barat Irjen Pol Rudy Sufahriadi. Dok.Tempo/Eko Siswono Toyudho

    Kapolda Jawa Barat Irjen Pol Rudy Sufahriadi. Dok.Tempo/Eko Siswono Toyudho

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Kepolisian Daerah Jawa Barat Inspektur Jenderal Rudy Sufahriadi mengatakan, penangkapan terduga teroris jaringan Jamaah Ansharut Daulah atau JAD akan terus berlanjut di wilayahnya.

    “Jumlahnya cukup banyak, nanti saya rilis,” kata Rudy. Rudy juga membenarkan jika hari ini telah dilakukan penangkapan di sejumlah titik, bahkan tidak hanya di Cirebon namun juga di banyak tempat. “Cukup banyak, nanti saya rilis di Polda,” kata Rudy saat berkunjung ke Markas Polres Cirebon, Selasa, 19 November 2019.

    Rudy juga mengungkapkan jika hari ini, esok, hingga lusa masih akan ada penangkapan sejumlah terduga teroris. “Di Cirebon banyak yang ditangkap dan banyak juga yang disita. “Nanti jumlahnya saya sampaikan semua,” kata Rudy.

    Sementara itu Kapolres Cirebon Ajun Komisaris Besar Roland Ronaldy, membenarkan adanya penggeledahan yang dilakukan di sejumlah rumah di wilayah Cirebon Kota. “Tapi kami hanya back up. Karena yang melakukan penggeledahan Densus 88,” kata Roland. Saat ditanyakan apakah terkait dengan jaringan pengeboman di Medan, Roland mengaku belum tahu pasti. Roland hanya mengetahui jika penangkapan kali ini terkait dengan jaringan JAD.

    Seperti diberitakan sebelumnya, penggeledahan telah dilakukan sedikitnya di dua titik di Kota Cirebon. Masing-masing di rumah milik Tanto, di Taman Kalijaga Permai RT 09 RW 13 Kecamatan Harjamukti Kota Cirebon. Penggeledahan juga dilakukan di rumah kontrakan milik Kustomo di RT 01 RW 04 Kelurahan/Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perjalanan Pemakzulan Donald Trump Dari Ukraina Ke Kongres AS

    Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat mencetuskan penyelidikan untuk memakzulkan Presiden Donald Trump. Penyelidikan itu bermula dari Ukraina.