SKPKC Fransiskan Papua: Anggaran untuk Papua Tak Tepat Sasaran

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Yuliana Langowuyo  dari SKPKC (kedua kiri), Beka Ulung Hapsara dari Komnas HAM (kedua kanan) dan Cahyo Pamungkas (LIPI) dalam Diskusi

    Yuliana Langowuyo dari SKPKC (kedua kiri), Beka Ulung Hapsara dari Komnas HAM (kedua kanan) dan Cahyo Pamungkas (LIPI) dalam Diskusi "Papua Bukan Tanah Kosong" di Jakarta, Jum'at 15 November 2019. TEMPO/Fajar Januarta

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Sekretariat Keadilan Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan Fransiskan Papua, Yuliana Langowuyo, mengatakan kucuran anggaran dana untuk Papua tak bakal menyelesaikan persoalan dasar di sana.

    Menurut dia, anggaran untuk kesehatan dan pendidikan memang terus naik. Namun, Yuliana melihat kenaikan anggaran tak sejalan dengan perkembangan bidang kesehatan dan pendidikan bagi warga Papua.

    "Tidak ada perubahan kesehatan, ada kasus gizi buruk di Asmat 1999 sampai 2018. Dari dulu sampai sekarang, pendidikan masih tentang angka buta huruf," kata Yuliana dalam diskusi buku "Papua Bukan Tanah Kosong: Beragam Peristiwa dan Fakta Hak Asasi Manusia di Tanah Papua " yang digelar di Gedung Tempo, pada Jumat, 15 November 2019.

    Yuliana menuturkan anggaran dana untuk Papua selalu hanya dititikberatkan pada infrastruktur tanpa memperhatikan aspek tenaga kerja. Ia berpendapat pemerintah lokal maupun pusat masih gagal menyentuh kebutuhan dasar tersebut.

    "Upaya yang dilakukan hanya infrastruktur, tapi dalam perjalanannya, sekolah berfungsi apa tidak? Puskesmas punya tenaga medis dan ada obat? Tidak diperhatikan. Kategori pembiaran," kata dia.

    Maka dari itu, Yuliana merasa prihatin dan berharap pemerintah bisa lebih jeli dan lebih peduli kepada masyarakat di Bumi Cendrawasih, "Papua harus bangkit. Ada kelimpahan manusia dan sumberdaya yang harus dihargai," kata dia.

    Nindya Astuti


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.