Rapimnas SOKSI: Ade dan Bambang Hadir, Airlangga Hartarto Absen

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana Rapimnas SOKSI di Hotel Kartika Chandra, Jakarta. Ahad, 8 Juli 2019. Januari tahun lalu, Akom jatuh dari kamar mandi dan mengalami stroke. TEMPO/Dewi Nurita

    Suasana Rapimnas SOKSI di Hotel Kartika Chandra, Jakarta. Ahad, 8 Juli 2019. Januari tahun lalu, Akom jatuh dari kamar mandi dan mengalami stroke. TEMPO/Dewi Nurita

    TEMPO.CO, Jakarta - Salah satu Ormas Pendiri Golkar, Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (SOKSI) menggelar Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) II di Hotel Kartika Chandra, Jakarta, Ahad, 28 Juli 2019. Acara itu dihadiri pendiri SOKSI Ade Komarudin yang hadir dengan menggunakan kursi roda karena stroke. Selain Ade, hadir pula Ketua DPR RI Bambang Soesatyo. Akan halnya Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto tidak hadir.

    Mewakili Pimpinan DPP Golkar, hadir Sekretaris Jenderal Lodewijk F. Paulus membuka acara. Dalam sambutannya, Lodewijk mengatakan kehadirannya dalam acara Rapimnas SOKSI ini tidak lain karena kehadiran Ade Komaruddin. "Jadi, kalau saya hadir di sini, itu tak lain karena kehadiran Pak Akom di sini," kata Lodewijk, di Hotel Kartika Chandra pada Ahad, 28 Juli 2019.

    Dalam pidatonya, Lodewijk berpesan agar organisasi sayap Golkar itu melakukan evaluasi internal untuk ikut memajukan Golkar di masa mendatang. "Kita harus down to earth menggarap konstituen yang belum tersentuh," ujar Lodewijk yang mendukung Airlangga Hartarto untuk Munas 2019 itu.

    Hal yang sama diungkapkan Waketum SOKSI, Ahmadi Noor Supit. Menurut Supit, Golkar perlu berbenah karena belakangan Golkar sebagai lama dinilai belum mampu menggaet pemilih milineal, sehingga mereka lari ke partai-partai baru. "Untuk itu, kita harus melakukan evaluasi agar bagaimana bisa menyesuaikan diri dengan para konstituen," ujar Supit.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.