Kata GNPF Ulama dan PA 212 Soal Jokowi Bertemu Prabowo

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ekspresi Presiden Joko Widodo (kanan) saat bersalaman dengan dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto di Stasiun MRT Lebak Bulus, Jakarta, Sabtu, 13 Juni 2019.  Kedua kontestan dalam Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden tahun 2019 lalu ini bertemu di Stasiun MRT Lebak Bulus dan selanjutnya naik MRT dan diakhiri dengan makan siang bersama. Foto: Muchlis Jr - Biro Pers Sekretariat Presiden

    Ekspresi Presiden Joko Widodo (kanan) saat bersalaman dengan dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto di Stasiun MRT Lebak Bulus, Jakarta, Sabtu, 13 Juni 2019. Kedua kontestan dalam Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden tahun 2019 lalu ini bertemu di Stasiun MRT Lebak Bulus dan selanjutnya naik MRT dan diakhiri dengan makan siang bersama. Foto: Muchlis Jr - Biro Pers Sekretariat Presiden

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Umum Gerakan Nasional Pengawal Fatwa atau GNPF Ulama, Yusuf Martak, mengatakan mereka belum menyatakan sikap atas momen Presiden Terpilih Joko Widodo atau Jokowi Bertemu Prabowo Subianto pada Sabtu, 13 Juli 2019 di Stasiun MRT Lebak Bulus.

    "Pertemuan yang terjadi itu adalah biasa-biasa saja dan tidak perlu dirisaukan,” kata Yusuf dalam jumpa pers persiapan kegiatan Ijtima Ulama ke-4 di Jakarta, Senin, 15 Juli 2019.

    Yusuf menuturkan sikap GNPF dan sejumlah organisasi masyarakat (Ormas) lainnya akan ditentukan setelah selesainya Ijtima Ulama ke-4. “Kami selalu bergerak, bertindak dan berbuat sesuatu, sesuai dengan amanat para ulama dan habib melalui ijtima yang sudah dilakukan sebelumnya,” kata Yusuf.

    Menurut dia, setelah selesainya sidang di Mahkamah Konstitusi (MK) terkait sengketa pemilihan presiden (Pilpres), mereka menganggap semuanya telah selesai. “Tidak ada lagi hal-hal dukung mendukung dan nantinya menunggu keputusan ijtima ke-4,” ujar Yusuf.

    Sementara itu, ketua Persaudaraan Alumni atau PA 212 Slamet Ma'arif mengatakan mereka tidak terpengaruh dengan pertemuan yang terjadi beberapa waktu lalu. “Pertemuan kemarin, kami senang juga nggak, tidak senang juga nggak, jadi biasa-biasa saja,” tegas Slamet.

    Menurut Slamet, ibarat kereta, gerbong 212 akan terus berjalan sampai tujuan. Siapapun yang satu visi dengan PA 212, silahkan naik ke dalam gerbong, sementara siapa pun yang tidak nyaman dan tidak satu visi, silahkan turun.

    “Siapa pun yang berada di depan dan menghalangi akan kami tabrak, karena kereta akan jalan terus,” kata Slamet.

    Baca juga:  Rekonsiliasi Prabowo-Jokowi: Inilah Untung Rugi Jadi Oposisi


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Anggota Kabinet Indonesia Maju yang Disusun Jokowi - Ma'ruf

    Presiden Joko Widodo mengumumkan para pembantunya. Jokowi menyebut kabinet yang dibentuknya dengan nama Kabinet Indonesia Maju.