Situs Kerap Diretas, KPU Terus Lakukan Perbaikan

Reporter:
Editor:

Rina Widiastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Arief Budiman memberikan keterangan kepada media di kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Senin, 12 Maret 2018. Tempo/Hendartyo Hanggi

    Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Arief Budiman memberikan keterangan kepada media di kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Senin, 12 Maret 2018. Tempo/Hendartyo Hanggi

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Arief Budiman mengatakan lembaganya terus melakukan perbaikan dan penguatan sistem untuk menghadapi ancaman peretasan yang menyerang situs resmi infopemilu.kpu.go.id.

    "Setiap ada kelemahan akan kami evaluasi, akan kami tingkatkan kemampuan untuk pengamanan, kecepatan, kapasitas, dan kemampuan kami," kata Arief di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Senin, 2 Juli 2018.

    Baca: Server Sering Down, KPU: Itu Upaya Menghadapi Serangan

    Situs KPU beberapa kali diserang oleh hacker. Arief sebelumnya menyatakan, KPU terpaksa membuka dan menutup sistem kendati hal itu berdampak pada situs down. Arief berujar hal itu terpaksa dilakukan untuk menghadapi serangan setiap menit.

    Arief mengatakan serangan siber terhadap situs KPU memang tak terhindarkan. Kata dia, kemungkinan diretas selalu ada meski sistem yang dibangun sudah kuat. "Emang bisa kita bilang, 'jangan meretas ya?' Enggak mungkin," kata dia.

    Baca: Tarik - Ulur Larangan KPU Soal Eks Napi Korupsi Jadi Caleg

    Kendati begitu, menurut Arief, peretasan itu tak akan mengganggu tahapan pemilu, termasuk penghitungan suara hasil pemilihan kepala daerah 2018. Dia mengatakan proses rekapitulasi berlangsung berjenjang.

    "Situng (sistem informasi penghitungan suara) itu alat bantu, ada rekap secara manual dengan berita acara yang dibuat di tiap tingkatan," kata Ketua KPU itu.

    DEWI NURITA


  • KPU
  •  

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sebab dan Pencegahan Kasus Antraks Merebak Kembali di Gunungkidul

    Kasus antraks kembali terjadi di Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta. Mengapa antraks kembali menjangkiti sapi ternak di dataran tinggi tersebut?