Pencarian KM Sinar Bangun Dihentikan, Ratna Sarumpaet Tuntut Ini

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga dan pemuka agama berdoa untuk para korban yang masih dinyatakan hilang akibat tenggelamnya KM Sinar Bangun di Danau Toba di Simalungun, Sumatera Utara, 22 Juni 2018. REUTERS/Beawiharta

    Warga dan pemuka agama berdoa untuk para korban yang masih dinyatakan hilang akibat tenggelamnya KM Sinar Bangun di Danau Toba di Simalungun, Sumatera Utara, 22 Juni 2018. REUTERS/Beawiharta

    TEMPO.CO, Medan - Proses pencarian KM Sinar Bangun yang karam di Danau Toba akan dihentikan pada Selasa besok, 3 Juli 2018. Karena itu, mulai hari ini dilaksanakan proses tabur bunga untuk mengenang para korban yang belum ditemukan.

    Namun di sela-sela proses tabur bunga, tepatnya saat berlangsung dialog antara Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan dengan keluarga korban, suasana di lokasi mendadak ramai. Sebab tokoh publik Ratna Sarumpaet yang hadir di sana memprotes kebijakan untuk menghentikan proses pencarian korban.

    Baca: Ratna Sarumpaet dan Luhut Cekcok Soal Evakuasi KM Sinar Bangun

    Berdasarkan informasi yang diperoleh, Ratna sempat berdebat dengan salah satu keluarga korban. Ia kemudian ingin berjumpa untuk berbicara langsung dengan Luhut. Namun permintaannya tersebut ditolak oleh Luhut. "Kamu boleh ngomong macam-macam sama orang, tapi jangan sama aku," kata Luhut dari dalam tenda Basarnas.

    Suasana yang semakin memanas membuat Kepala Kepolisian Resor Simalungun, Ajun Komisaris Besar Liberty Panjaitan meminta Ratna meninggalkan lokasi. Namun sebelum itu, Ratna sempat mengungkapkan keinginannya. "Saya enggak mau semua ini dihentikan sebelum semua mayat diangkat," ujarnya.

    Ratna mengatakan apa yang dialami KM Sinar Bangun adalah persoalan kemanusiaan. Persoalan ini bukan hanya dalam konteks lokal Tapanuli atau Indonesia, tapi sudah menjadi persoalan internasional.

    Baca: Pemkab Janjikan Bangun Monumen untuk Korban KM Sinar Bangun

    Tak hanya itu, Ratna mengatakan dirinya bisa saja melaporkan persoalan KM Sinar Bangun langsung ke PBB. Namun niat tersebut dia urungkan karena dia ingin terlebih dulu berdialog dengan tim yang bertugas untuk evakuasi.

    Aktivis perempuan tersebut juga menyatakan jika langkah pemerintah untuk memberi santunan kepada keluarga korban tidak semuanya benar. Karena menurut dia, bagaimana pun nyawa seseorang tidak bisa diselesaikan dengan uang.

    Ratna juga menyayangkan jika dirinya tidak dapat berbicara dengan Menko Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan. "Saya kalau resek, bisa langsung ke PBB. Tapi kan kita bisa bicara dong di sini. Jangan langsung bilang saya tidak ada urusan dengan Ratna. Enggak boleh begitu, dia juga tahu siapa saya kok," kata dia.

    Baca: Pencarian KM Sinar Bangun akan Dihentikan Selasa Besok


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lima Warisan Iptek yang Ditinggalkan BJ Habibie si Mr Crack

    BJ Habibie mewariskan beberapa hal yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Warisannya berupa lembaga, industri, dan teori kelas dunia.