Dituduh Geledah Rumah Deddy Mizwar, M. Iriawan: Kasihan Pak SBY

Reporter:
Editor:

Rina Widiastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pejabat Gubernur Jawa Barat M Iriawan (kiri) memimpin apel dan halal bihalal di Gedung Sate, Bandung, Kamis, 21 Juni 2018. Acara di hari pertama masuk kerja ini diikuti sekitar 1.400 ASN. ANTARA/Raisan Al Farisi

    Pejabat Gubernur Jawa Barat M Iriawan (kiri) memimpin apel dan halal bihalal di Gedung Sate, Bandung, Kamis, 21 Juni 2018. Acara di hari pertama masuk kerja ini diikuti sekitar 1.400 ASN. ANTARA/Raisan Al Farisi

    TEMPO.CO, Jakarta - Penjabat Gubernur Jawa Barat Komisaris Jenderal M. Iriawan tak kaget dirinya dituduh melakukan penggeledahan rumah dinas Wakil Gubenur Jawa Barat Deddy Mizwar, seperti yang dinyatakan oleh Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY. "Saya biasa digitukan, saya biasa, jadi enggak kaget," ujarnya seusai menghadiri halal bi halal di kompleks Gedung Sate, Bandung, Senin, 25 Juni 2018.

    Iriawan menyayangkan SBY mendapat informasi tersebut dari pembisiknya. "Sekarang di media sosial beliau terpojok, kan kasihan. Harusnya dilihat dulu yang memberi masukan," ucapnya.

    Baca: SBY Sebut Rumah Deddy Mizwar Digeledah M. Iriawan, Ini Faktanya

    Ia pun menegaskan tak ingin memperpanjang soal tuduhan itu. "Kan sudah dijawab, cukuplah. Jangan membuat terus bergulir karena tidak ada ya itu," katanya.

    Iriawan telah membantah tuduhan yang ditujukan kepadanya tersebut. Ia menjelaskan, yang dia datangi adalah rumah dinas Wakil Gubernur Jawa Barat, bukan rumah pribadi Deddy Mizwar. "Surat Berita Acara (penyerahan rumah dinas) itu sudah ada. Kalau itu rumah dinas pejabat wakil gubernur, bukan rumah pribadi," katanya.

    Ia melanjutkan, dirinya mendatangi rumah itu karena diajak melihat aset milik pemerintah provinsi Jawa Barat. "Saya hanya diajak oleh Kabag Rumah Tangga untuk melihat aset, itu saja sebetulnya," kata Iriawan.

    Baca: Bantah SBY, Pemprov Jabar: Tak Ada Penggeledahan di Rumah Wagub

    Mantan Kapolda Jawa Barat itu pun meminta kepada semua pihak agar membantu menjaga situasi menjelang hari pencoblosan. "Kami terus menciptakan situasi kondusif, Jabar yang aman, makanya semua pihak menahan diri. Saya juga sampaikan lillahi ta'ala, saya hanya untuk Jawa Barat, saya cinta Jawa Barat, saya sayang Jawa Barat, saya cinta Jawa Barat, lain enggak ada. Jadi, apabila akan melangkah, kita harus berpikir panjang," kata dia.

    Menjelang persiapan pencoblosan Pilkada 2018, Iriawan mengaku terus mendapatkan laporan terbaru. “Alhamdulillah, laporan dari pemerintah kabupaten/kota tingkat dua, masih berjalan normal. Distribusi surat suara, kemudian para pengawas pemilu, sudah masuk ke posisi masing-masing. Kemarin kami apel. Mohon doanya semua bisa berjalan lancar, aman,” ucapnya.

    Baca: SBY Beberkan Bukti Ketidaknetralan BIN, TNI dan Polri di Pilkada

    Di sela acara halal bihalal tersebut, Iriawan memberikan penjelasan soal penunjukannya sebagai pejabat Gubernur Jawa Barat yang kemudian memicu kontroversi. "Apabila saya tidak netral selaku pejabat gubernur, nanti yang menurunkan adalah ASN (Aparatur Sipil Negara) dari provinsi, saya ikhlas, itu komitmen saya. Nanti waktu akan membuktikan,” kata dia.

    Dalam acara tersebut, hadir sejumlah tamu undangan. Di antaranya adalah Ketua DPRD Jawa Barat Ineu Purwadewi; termasuk mantan Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan beserta isterinya Netty Heryawan. Dalam acara itu juga diisi ceramah yang disampaikan Rektor UIN Sunan Gunung Jati, serta hiburan lagu rohani oleh Trio Bimbo.

    Sebelumnya, Kepala Bagian Rumah Tangga Biro Umum, Sekretariat Daerah Jawa Barat, Dedi Apendi membantah berita soal penggeledahan rumah Deddy Mizwar yang dilakukan oleh Penjabat Gubernur M. Iriawan. “Saya yang membawanya. Enggak enaknya, kok jadi begini,” kata dia pada Tempo di Bandung, Sabtu, 23 Juni 2018.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Krakatau Steel di 7 BUMN yang Merugi Walaupun Disuntik Modal

    Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyoroti 7 BUMN yang tetap merugi walaupun sudah disuntik modal negara.