Dituntut 12 Tahun Penjara, Fredrich Yunadi: Ini Sandiwara

Reporter:
Editor:

Rina Widiastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dokter spesialis jantung RS Premier Jatinegara Jakarta Timur, dokter Glen, bermemberikan keterangan sebagai saksi dalam sidang perkara merintangi penyidikan kasus korupsi e-KTP dengan terdakwa Fredrich Yunadi, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, 3 Mei 2018. TEMPO/Imam Sukamto

    Dokter spesialis jantung RS Premier Jatinegara Jakarta Timur, dokter Glen, bermemberikan keterangan sebagai saksi dalam sidang perkara merintangi penyidikan kasus korupsi e-KTP dengan terdakwa Fredrich Yunadi, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, 3 Mei 2018. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Terdakwa perkara merintangi penyidikan kasus korupsi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Fredrich Yunadi, menilai tuntutan maksimum jaksa berupa hukuman 12 tahun penjara sebagai satu sandiwara.

    "Menurut saya, ini hanya satu sandiwara," ujar Fredrich seusai persidangan tuntutan, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Kamis, 31 Mei 2018.

    Baca: Fredrich Yunadi Dituntut 12 Tahun Penjara dan Denda Rp 600 Juta

    Sandiwara yang dimaksud Fredrich adalah kriminalisasi terhadap profesi advokat. Bekas pengacara terpidana kasus kartu tanda penduduk elektronik (e-KTP) Setya Novanto ini mengatakan tindakannya selama insiden kecelakaan Setya pada November tahun lalu termasuk ranah menjalankan profesinya sebagai advokat.

    Fredrich menyebutkan, dengan menjatuhkan tuntutan 12 tahun penjara kepadanya, sama dengan membumihanguskan profesi advokat. Menurut dia, ada pihak-pihak tertentu di balik sandiwara ini. "Sandiwara, dalam hal ini, ada pihak-pihak tertentu," ujarnya.

    Dalam perkara ini, jaksa KPK menuntut Fredrich Yunadi 12 tahun penjara dan denda Rp 600 juta. Jaksa meyakini Fredrich terbukti bersalah melanggar Pasal 21 Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi tentang mencegah, merintangi, atau menggagalkan penyidikan secara langsung atau tidak langsung.

    Baca: Fredrich Yunadi Bakal Laporkan Hakim Kasusnya ke KY dan MA

    Fredrich Yunadi berencana menyusun 1.000 halaman lebih berkas pembelaan. "Saya akan tulis pleidoi 1.000 halaman lebih," katanya. Ia mengatakan akan menulis keterangan saksi lebih terperinci dalam pleidoinya dibanding yang dibuat oleh jaksa KPK dalam berkas tuntutan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.