HMI: Kampanye Negatif Bikin Anak Muda Tak Tertarik Politik

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas satpol pp dan panwaslu mencopot alat peraga berupa bendera partai politik saat penertibkan di kawasan Karawaci, Tangerang, Banten (6/4).  Penertiban tersebut dilakukan panwaslu bersama satpol pp yang  dimulai dini hari pukul 00.01 saat memasuki massa tenang kampanye. TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

    Petugas satpol pp dan panwaslu mencopot alat peraga berupa bendera partai politik saat penertibkan di kawasan Karawaci, Tangerang, Banten (6/4). Penertiban tersebut dilakukan panwaslu bersama satpol pp yang dimulai dini hari pukul 00.01 saat memasuki massa tenang kampanye. TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Respiratori Saddam Al Jihad mengatakan budaya politik para elit politikus saat ini sangat menentukan arah politik anak muda sebagai pemilih pemula.

    "Kalau para elit berpolitik dengan campaign-campaign negatif, anak muda semakin tidak menarik bagi anak muda," kata Saddam dalam diskusi publik di Jakarta pada Sabtu, 28 April 2018.

    Baca: Perludem Sebut Anak Muda Masih Jadi Penonton Politik

    Saddam mengatakan, banyak campaign dan cara politik para elit kurang baik yang dipertontonkan di media sosial, yang mayoritas penggunanya adalah anak muda. "Mendukung si A, memburukan si B, itu banyak dilakukan oleh para elit politikus di media sosial," ujarnya.

    Kecenderungan politik tersebut, menurut Saddam, berpotensi memecah belah bangsa termasuk anak muda. Bahkan memicu permusuhan," ujarnya.

    Baca: Pengamat: Tanpa Karakter, Generasi Milenial Jadi Politikus Busuk

    Saddam berpendapat anak muda merupakan aset politik bagi bangsa di masa mendatang. Jika anak muda hari ini semakin anti terhadap politik, maka akan menjadi sebuah ancaman bagi perkembangan demokrasi dan politik Indonesia ke depannya.

    Para elit politik, kata Saddam, semestinya memberikan tuntunan bagi anak muda dalam berpolitik. "Dengan memberikan dukungan dan ruang bagi anak muda untuk berpolitik sesuai zamannya yang dekat dengan teknologi dan sosial media," ujarnya.

    Bagi anak muda, Saddam mengatakan harus berideologi terlebih dahulu sebelum masuk dalam politik agar bisa menjaga independensinya dan tidak dijadikan objek dalam politik praktis. "Anak muda harus menjaga independensinya, karena yang mengkritisi suatu bangsa adalah anak-anak mudanya," ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Anggota Kabinet Indonesia Maju yang Disusun Jokowi - Ma'ruf

    Presiden Joko Widodo mengumumkan para pembantunya. Jokowi menyebut kabinet yang dibentuknya dengan nama Kabinet Indonesia Maju.