Lindu Susulan Pasca-Gempa Banjarnegara Masih Memakan Korban

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah pengungsi menempati ruang kelas yang digunakan sebagai pos pengungsian darurat di SD N 2 Sidakangen, Kalibening, Banjarnegara, Jateng, 18 April 2018. Banyak warga mengaku takut bila harus tinggal di dalam rumah yang rusak akibat gempa, dan masih trauma terhadap kemungkinan gempa susulan. ANTARA/Idhad Zakaria

    Sejumlah pengungsi menempati ruang kelas yang digunakan sebagai pos pengungsian darurat di SD N 2 Sidakangen, Kalibening, Banjarnegara, Jateng, 18 April 2018. Banyak warga mengaku takut bila harus tinggal di dalam rumah yang rusak akibat gempa, dan masih trauma terhadap kemungkinan gempa susulan. ANTARA/Idhad Zakaria

    TEMPO.CO, Jakarta -  Gempa Banjarnegara, Jawa Tengah, pada Rabu lalu hingga kini masih menyisakan lindu lanjutan. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika mencatat, hingga Ahad siang, 22 April 2018, ada 13 gempa susulan. Satu diantaranya terasa kuat dan menambah korban luka dua orang.

    Kepala Bidang Informasi Gempabumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG Daryono menyebutkan, kekuatan gempa Banjarnegara susulan terkecil bermagnitudo 1,7 dan yang terbesar bermagnitudo 3,4. Gempa sebesar itu terjadi Sabtu 21-April 2018 pukul 18.19 WIB.

    Baca juga: Gempa Banjarnegara, BMKG: Dangkal Tapi Merusak

    Sumber gempa Banjarnegara atau episenter pada koordinat 7,20 LS,109,66 BT tepatnya di darat pada jarak 25 kilometer arah utara Banjarnegara pada kedalaman 1 kilometer. "Gempa susulan ini dirasakan cukup kuat di Kecamatan Kalibening dalam skala intensitas III MMI. Seluruh warga Kalibening merasakan guncangannya," kata Daryono lewat keterangan tertulis.

    Dampak gempa Banjarnegara susulan ini menyebabkan 2 orang mengalami luka ringan. Warga terluka karena terkena rubuhan bangunan yang sudah retak saat terjadi gempa utama pada Rabu, 18 April lalu.

    BMKG menilai karakteristik gempa Banjarnegara yang terjadi di Kalibening ini unik karena kedalaman sumber gempanya yang sangat dangkal. Akibatnya gempa bermagnitudo kecil pun dampaknya terasa kuat.

    Gempa Banjarnegara, Jawa Tengah terjadi akibat pergerakan sesar atau patahan lokal. "Persisnya segman Sesar Kalibening-Wanayasa," kata Daryono, Kamis lalu. Gempa itu terjadi Rabu 18 April 2018 pukul 13.28 WIB.

    Pasca gempa Banjarnegara, BMKG melakukan rekonfigurasi sensor seismik untuk meningkatkan akurasi pemantauan gempa susulan.

    Baca juga: Gempa Banjarnegara, 316 Rumah Rusak

    Berdasarkan hasil pemantauan dari sensor portable seismograf BMKG sebanyak 5 unit yang terpasang di sekitar sumber gempa, disimpulkan kekuatan gempa susulan semakin melemah dalam empat hari ini.
    "Dapat diperkirakan sangat kecil potensi terjadinya gempa susulan yang lebih kuat lagi di zona gempa saat ini," kata Daryono.

    BMKG juga menyimpulkan kondisi kegempaan di daerah terdampak cenderung menuju stabil. BMKG meminta masyarakat tidak perlu takut dengan aktivitas gempa susulan.

    Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebelumnya mencatat, gempa Banjarnegara itu mengakibatkan dua orang tewas, 21 orang luka, dan 2.104 orang mengungsi. Dua warga yang meninggal berada di Desa Kasinoman, yaitu Asep siswa kelas 5 SD dan Kasri, 80 tahun.

    Gempa Banjarnegara merusak 316 rumah. Korban sebagian besar disebabkan tertimpa oleh bangunan yang roboh. "Kondisi tanah gembur di Banjarnegara menyebabkan kerusakan cukup parah di wilayah Kecamatan Kalibening Kabupaten Banjarnegara," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB
    Sutopo Purwo Nugroho lewat keterangan tertulis.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Palapa Ring Akan Rampung Setelah 14 Tahun

    Dicetuskan pada 2005, pembangunan serat optik Palapa Ring baru dimulai pada 2016.