Tragedi Tanjakan Emen, Dishub Ungkap Posisi Transmisi Bus

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah keluarga korban kecelakaan bus di Tanjakan Emen berdoa di TPU Legoso Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, Minggu,11 Februari 2018. Sebanyak 27 penumpang tewas dalam kecelakaan tersebut. TEMPO/Fakhri Hermansyah

    Sejumlah keluarga korban kecelakaan bus di Tanjakan Emen berdoa di TPU Legoso Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, Minggu,11 Februari 2018. Sebanyak 27 penumpang tewas dalam kecelakaan tersebut. TEMPO/Fakhri Hermansyah

    TEMPO.CO, Bandung - Bus pariwisata Premium Passion yang mengalami kecelakaan di Tanjakan Emen, Subang, Jawa Barat, diketahui tuas transmisinya dalam posisi gigi tinggi. “Saat jelang memasuki jalan turunan dari Tangkuban Perahu, posisi tuas gigi transmisi pada gigi 4,” kata Kepala Dinas Perhubungan Jawa Barat Dedi Taufik di Bandung, Jawa Barat, Senin, 12 Februari 2018.

    Bus yang membawa rombongan dari Ciputat Timur itu mengalami kecelakaan di Tanjakan Emen pada Sabtu, 10 Februari 2018. Sebanyak 27 orang meninggal akibat kecelakaan maut tersebut.

    Menurut Dedi, ada upaya sopir bus menurunkan gigi, tapi gagal sehingga bus diduga oleng karena kelebihan kecepatan atau over speed. “Rambu warning light kami ditabrak, berarti dia mencoba menghindari, dia masuk ke tebing untuk mengurangi kecepatan,” ujarnya.

    Baca juga: Bus Terguling di Tanjakan Emen Bawa Rombongan dari Ciputat

    Menurut Dedi, saat memasuki daerah turunan, seharusnya sopir bus menggunakan gigi rendah. “Dengan kecepatan tinggi, sepanjang 2,4 kilometer dari Tangkuban Perahu sampai dengan lokasi kejadian itu geometrik jalan turunan, posisi persneling ada di posisi gigi tinggi, gigi 4, harusnya dia menurunkan ke gigi 2 sehingga tidak terjadi over speed,” ucapnya.

    Dedi mengatakan temuan lain saat evakuasi bus pariwisata yang mengalami kecelakaan itu adalah bannya sudah dalam posisi terkunci. “Pasca-kejadian, mobilnya di derek karena rodanya ngunci. Sistem pengereman bus ini menggunakan sistem ABS, automatic break system,” tuturnya.

    Dia menuturkan, dari pemeriksaan ditemukan baut servo pada sistem pengereman itu sudah terbuka. Baut servo tersebut berhubungan dengan sistem rem bus yang menyebabkan ban terkunci. “Apakah pasca-kejadian itu baut servo dicabut untuk mengevakuasi atau sebelum, nanti kita lihat,” kata Dedi.

    Baca juga: Tragedi Tanjakan Emen, Sopir Bus Ditetapkan Sebagai Tersangka

    Tak hanya itu, hasil pemeriksaan polisi mendapati supir bus itu baru empat kali membawa bus. “Hasil pengakuan sopir bahwa pengemudi baru empat kali membawa kendaraan,” ujarnya.

    Dedi berujar sistem kemudi bus dalam keadaan baik, sistem transmisi tidak mengalami kebocoran, suspensi dalam kondisi baik, bodi mesin terpelihara, engine break terpasang, ruang mesin terpelihara, sistem rem utama tidak ditemukan patahan, serta ban terpelihara. “Tapi ada pembukaan pada baut servo, apakah ini pasca atau sebelum kejadian,” ucapnya.

    Bus yang mengalami kecelakaan di Tanjakan Emen itu juga sudah menjalani pengujian berkala enam bulanan, dan tanggal terakhir pemeriksaan pada 5 Oktober 2017. “Masih berlaku,” tutur Dedi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?