Kampus Ini Teliti Radikalisme di Internet, Hasilnya....

Reporter:
Editor:

Widiarsi Agustina

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah massa yang tergabung dalam Majelis Pembela Tanah Suci, membawa poster dan spanduk saat melakukan aksi unjuk rasa di depan Kedutaan Besar Republik Iran, Jakarta, 14 Apri 2015. Dalam aksi damai tersebut mereka mengecam dan mendesak Iran untuk menghentikan penyebaran revolusi radikalismenya ke seluruh negara-negara Islam. TEMPO/Imam Sukamto

    Sejumlah massa yang tergabung dalam Majelis Pembela Tanah Suci, membawa poster dan spanduk saat melakukan aksi unjuk rasa di depan Kedutaan Besar Republik Iran, Jakarta, 14 Apri 2015. Dalam aksi damai tersebut mereka mengecam dan mendesak Iran untuk menghentikan penyebaran revolusi radikalismenya ke seluruh negara-negara Islam. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta -– Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial Universitas Muhammadiyah Surakarta (PSBPS UMS)  meneliti potensi radikalisme dan ekstrimisme  di website dan media sosial. Ketua Peneliti PSBPS Yayah Khisbiyah mengatakan, penelitian untuk memahami peran media sosial dalam menyebarkan ideologi radikalisme dan mendukung ekstremisme.

    “Sekarang tinggal proses menganalisis, tapi dalam analisis kami meminta masukan,” kata Yayah saat Roundtable Discussion di kantor Muhammadiyah, Jakarta Pusat, Selasa 31 Oktober 2017. Ia menjelaskan penelitian ini dilatar-belakangi adanya kritik terhadap riset radikalisme dan adanya framing yang menyebutkan Islam sebagai sumber radikalisme.

    Yayah menjelaskan terdapat perbedaan antara radikalisme dan ekstrimisme. Radikalisme, kata dia, adalah pendapat dan perilaku yang menyukai perubahan ekstrim terutama di pemerintahan: gagasan dan perilaku politik yang radikal. Sementara ekstrimisme adalah kepercayaan dan dukungan untuk gagasan yang sangat jauh dari apa yang dianggap benar dan beralasan.

    BACA:Survei Alvara: 20 Persen Pelajar dan Mahasiswa Rela Berjihad

    Penelitian ini mengambil 17 situs web sebagai sampel dalam penelitian. Sebanyak 13 informan terpilih dan 10 pengelola website pun diwawancara untuk penelitian ini. “Ini karena waktu terbatas, apalagi isunya sensitif,” kata Yayah. Beberapa situ organisasi Islam mainstream digunakan seperti web Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, dan Nahdlatul Wathan.

    Situs organisasi Islam kontemporer seperti FPUI, Hidayatullah, Dewan Dakwah, MMI, dan MTA juga dijadikan objek penelitian. Selain itu terdapat situs organisasi Islam unaffiliated juga menjadi objek penelitian yang rencananya dirilis pada awal Desember 2017 ini.

    BACA:3 Tahun Jokowi-JK, Akademikus Soroti Menguatnya Radikalisme

    Anggota tim peneliti, M. Subkhi Ridho, menemukan kecenderungan pengguna media sosial didominasi 60-70 persen laki-laki yang mendukung dan menolak wacana terorsme. Ia menjelaskan kecenderungan motif pembuatan situs adalah keinginan pengguna untuk mengkritisi pemerintah. “Ada juga untuk menghentikan hoax, meskipun banyak yang menghentikan hoax justru menimbulkan hoax,” ujarnya.

    Yayah menyatakan keprihatian bahwa media sosial cenderung digunaan untuk menyebarluaskan pandangan radikalisme dan kekerasan ekstremis. “Karena tujuan utk mencapai masyarakat adil mungkin bisa tidak tercapai.Cara kekerasan itu jarang memberi kedamaian yang sustainable,” ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Baru E - Commerce yang Tertuang dalam PP PMSE

    Pemerintah resmi menerbitkan regulasi tentang e-commerce yang tertuang dalam PP PMSE. Apa yang penting dalam aturan baru tersebut?