Fahri Hamzah: Setya Novanto Berdiri Saja Ngantuk, Apalagi Duduk

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua DPR Setya Novanto (tengah) bersama Wakil Ketua DPR Fadli Zon (kedua kiri), Agus Hermanto (kedua kanan), Taufik Kurniawan (kanan) dan Fahri Hamzah (kiri) mengangkat tangan bersama seusai memberikan keterangan kepada wartawan di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, 18 Juli 2017. ANTARA/M Agung Rajasa

    Ketua DPR Setya Novanto (tengah) bersama Wakil Ketua DPR Fadli Zon (kedua kiri), Agus Hermanto (kedua kanan), Taufik Kurniawan (kanan) dan Fahri Hamzah (kiri) mengangkat tangan bersama seusai memberikan keterangan kepada wartawan di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, 18 Juli 2017. ANTARA/M Agung Rajasa

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Fahri Hamzah mengaku telah menjenguk Setya Novanto saat sebelum dan sesudah putusan praperadilan. Ia pun keheranan dengan adanya pendapat orang yang meragukan bahwa Setya Novanto sakit.

    "Orang itu (Setya Novanto) memang sakit. Pak Nov itu kelihatan sakitnya itu, suka tidur dia, berdiri aja ngantuk, apalagi duduk," kata Fahri di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu 4 Oktober 2017.

    Fahri mengatakan telah menjenguk Setya Novanto, yang juga Ketua Umum Partai Golkar itu saat masih tak sadarkan diri. Pertemuan kedua dilakukan ketika Novanto mulai membaik. "Saya dengar dia kan yang ngantuknya itu penyakitnya di hidungnya. Dia mau dioperasi," ujarnya.

    Baca juga: Politikus Golkar Sebut Setya Novanto Sakit Tenggorokan

    Fahri pun menyayangkan adanya pihak yang tidak mempercayai kerja dokter yang memeriksa Setya Novanto. Ia bahkan menuding ada upaya mempolitisasi peristiwa sakitnya Setya Novanto. "Pak Nov itu saya juga denger jatuh tapi yang jelas dia di-ring, dan itu komite etik IDI terpaksa rapat gara gara KPK mempersoalkan kredibilitasnya," katanya.

    Setya Novanto ditetapkan sebagai tersangka karena diduga menguntungkan diri sendiri, orang lain, atau korporasi dengan menyalahgunakan kewenangan karena jabatannya. Ia disangka melanggar Pasal 3 atau Pasal 2 ayat 1 Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dan menyebabkan kerugian negara rugi Rp 2,3 triliun.

    Baca juga: Setya Novanto Pulang dari RS, Wakil Ketua DPR Kangen Kerja Bareng

    Politikus Golkar itu dua kali mangkir dari pemeriksaan KPK dengan alasan sakit. Pemanggilan terakhir disampaikan 18 September 2017 lalu. Ia juga mengajukan praperadilan atas status tersangkanya. Setelah putusan praperadilan yang memenangkannya, Setya Novanto pulang dari rumah sakit pada 2 Oktober.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Industri Permainan Digital E-Sport Makin Menggiurkan

    E-Sport mulai beberapa tahun kemarin sudah masuk dalam kategori olahraga yang dipertandingkan secara luas.